Kamis, 21 Januari 2010

Evolusi dan Inovasi Djarum Black

Seperti kita ketahui, Indonesia merupakan pasar rokok terbesar kelima di dunia. Rokok kretek menguasai pasar hingga 92 persen. Berdasarkan data yang ada, kapasitas produksi rokok nasional tahun 2006 mencapai 220 miliar batang. Sedangkan pada tahun 2007, pertumbuhan produksi rokok mencapai dua persen dibanding tahun sebelumnya.

Bisnis rokok sudah menjadi aset bagi negara Indonesia secara umum. Tidak jarang mereka menjadi sponsor berbagai event yang membutuhkan biaya yang begitu besar. Berbagai perusahaan rokok kini mulai berlomba-lomba untuk terus berinovasi memanjakan pelanggannya dengan berbagai layanan, salah satunya adalah seperti yang sedang dilakukan oleh perusahaan rokok Djarum dengan menyelenggarakan kompetisi blog.

Rokok kretek adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek. Rokok kretek berbeda dengan rokok yang menggunakan tembakau buatan. Jenis cerutu merupakan simbol rokok kretek yang luar biasa, semuanya alami tanpa ada campuran apapun, dan pembuatannya tidak bisa menggunakan mesin. Masih memanfaatkan tangan pengrajin.

Ada Rokok Kretek non-filter dan dengan filter. Kretek yang non-filter masih terbagi dari yang tingwe (lintingan sendiri) tanpa saus tambahan, cerutu, klobot dan lintingan mesin dengan tambahan saus cengkeh. Sedangkan kretek dengan filter berisi semacam gabus yang berfungsi menyaring nikotin dari pembakaran tembakau dan cengkeh.

Ulasan tentang sejarah rokok kretek di Indonesia bermula dari kota Kudus.Oleh karena itu, kota Kudus sering disebut sebagai kota Kretek. Tidak hanya satu perusahaan rokok yang berdiri di kota itu saat ini, tetapi salah satu yang terbesar adalah pabrik rokok Djarum.
Jika kita melihat ke belakang, Djarum merupakan salah satu merek rokok kretek terkenal yang muncul di negeri ini sejak tanggal 25 Agustus 1950 yang pada awalnya hanya mempunyai sepuluh pekerja. Bisnis rokok Djarum ini didirikan pertama kali oleh Oei Wie Gwan yang mengawali produksinya dengan memasok rokok untuk Dinas perbekalan Angkatan Darat. Lalu, pada tahun 1955, Djarum mulai memperluas produksi dan pemasarannya hingga semakin besar setelah menggunakan mesin pelinting dan pengolah tembakau pada tahun 1967.

Entah sudah berapa banyak jenis produk yang sudah pernah diproduksi selama kurang lebih enam puluh tahun hingga saat ini. Sebut saja jenis produk seperti Djarum Coklat, Djarum istimewa, Djarum 76, Nuu Mild, Djarum Super, LA Lights, LA Menthol Lights, Djarum Black, Djarum Black Slimz, Djarum Black Cappucino, Djarum Black Tea, The President, Inspiro, Djarum Classic, Djarum Vanilla, Djarum Splash, Djarum Original, Djarum Cherry, Djarum Menthol, Djarum Menthol, Djarum Special, Djarum Filter, Djarum Super Mezzo, Filtra, dan Djarum Merdeka.

Pemilihan kualitas dan racikan yang tepat menjadikan Djarum masih tetap digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama produk mutakhirnya yang dinamai Djarum Black. Bagi sebagian orang produk ini menjadi sesuatu yang favorit, entah itu untuk kalangan muda maupun tua. Kombinasi yang terdapat dalam setiap linting rokok Djarum Black telah membuat pelanggannya jatuh hati. Tidak hanya itu, berbagai kompetisi belakangan juga mulai banyak diadakan oleh Djarum Black melalui program tahunan bertajuk Djarum Black Autoblackthrough.

Program tersebut menggendong beberapa kegiatan diantaranya adalah modifikasi otomotif (Djarum Black Motodify), inovasi seputar teknologi terkini (Djarum Black Innovation Awards), serta lomba blog (Djarum Black Blog Competition). Untuk lebih jelasnya, silakan langsung saja menuju http://www.autoblackthrough.com atau http://www.autoblackthrough.com/blogcompetition/ atau http://blackoholiczone.blogspot.com/.

Referensi :
http://www.antara.co.id/view/?i=1197827923&c=EKB&s=
http://id.wikipedia.org/wiki/Kretek
http://id.wikipedia.org/wiki/Djarum

2 comments:

Unknown mengatakan...

ah mau inovasi n kualitas sebagus apa, mau prusahaanny mau ngadain CSR sebagus ap, namanya rokok tetep aj jelek..

Aditya Rizki Yudiantika mengatakan...

@fahim007 : berpendapat boleh saja, tapi tulisanku di atas itu mungkin bicara di sudut pandang yang lain... no offense... :D