Rabu, 12 Januari 2011

Kebebasan Jurnalistik di Balik Kasus Wikileaks

wikileaksKasus wikileaks yang baru-baru ini menjadi pemberiaan hangat di berbagai media massa dunia setidaknya telah membuktikan bahwa sistem keamanan militer negara adidaya sekelas Amerika Serikat bisa dijebol dengan mudah. Dialah Julian Assange yang telah berhasil mengumpulkan informasi-informasi tersebut secara rapi menggunakan media situs web. Julian Assange adalah seorang berkewarganegaraan Australia yang berusaha mempublikasikan informasi rahasia dunia melalui wikileaks.org.Ia dibantu oleh teman-teman lainnya membangun situs tersebut, dimana ia menjadi direktur.

Negara Amerika Serikat yang menganut sistem kebebasan jurnalistik sangat kerepotan saat menghadapi kebocoran informasi tersebut di dunia maya.Salah satunya yaitu kebocoran tentang jumlah korban perang AS-Irak yang berlangsung dari tahun 2004-2009. Situs tersebut mengatakan bahwa korban perang AS-Irak berjumlah 109.032, terdiri atas 66.081 warga sipil, 23. 984 musuh yang dicap sebagai pemberontak, 15. 196 pasukan pemerintah Irak, dan 3.771 pasukan koalisi. Sebanyak 31 warga sipil meninggal setiap hari selama periode 6 tahun. Sementara itu, catatan perang Afganistan yang dirilis oleh Wikileaks, pada periode yang sama, jumlah kematian sekitar 20.000 orang. Tercatat 5 kematian perhari selama 6 tahun masa pendudukan AS di sana. Selain itu, situs tersebut juga memberikan informasi tentang beberapa kekejaman tentara Amerika di Afganistan, Irak, juga komunikasi diplomatik yang bersubstansi kecurangan politik lainnya.

Walaupun sudah diblokir, akan tetapi sampai saat ini muncul banyak situs replikasi yang jumlahnya hingga 500 situs. Pihak berwenang Amerika berargumentasi bahwa Wikileaks bukan merupakan suatu karya genius melainkan hanya keahlian hacking kepada dokumen-dokumen yang bersubstansi politik dan menganggapnya sebagai tindakan illegal bahkan penuduhan kepada terorisme.

Freedom Jurnalistik memang bukan kebebasan informasi. Freedom Jurnalistik adalah penyajian informasi yang bertanggung jawab untuk mengungkapkan kebenaran. Informasi yang tidak berdasarkan kebenaran harusnya tidak diungkapkan. Bedanya kita dengan Amerika. Di Amerika, informasinya tersembunyi sehingga secara tidak sadar para jurnalis profesional di giring untuk menjadi stenografi pemerintah. Sementara di negara kita informasi yang beredar banyak yang ngawur sehingga dinamakan kebebabasan pers yang kebablasan bukan kebenaran informasi.

Jika saya lihat dari sisi keamanan informasi, sebuah negara barat (AS) yang kita kenal mempunyai infrastruktur teknologi informasi terbaik dibanding negara lain, ternyata masih bisa diintip oleh orang lain. Hal ini berarti sistem keamanan informasi yang dipasang masih sangat lemah. Dalam kenyataannya tidak hanya satu informasi yang berhasil dipublikasikan dan dibaca oleh seluruh dunia. Sudah seharusnya pemerintah AS segera tanggap dalam menghadapi masalah ini, entah itu dalam kebijakan, perbaikan infrastruktur, atau kepercayaan kepada sumber daya manusia yang ada.

Kebebasan jurnalistik (freedom of speech) untuk menyebarkan informasi berdasar kebenaran/fakta tampaknya dimanfaatkan oleh Julian Assange untuk menyebarkan banyak dokumen rahasia melalui situsnya, meskipun dokumen tersebut sifatnya illegal. Banyak yang menyayangkan hal tersebut terjadi, tetapi entah sengaja atau tidak sengaja dalam waktu yang bersamaan ia telah mempermalukan etika jurnalistik di sebuah negara yang menganut sistem demokrasi. Sudah seharusnya kebebasan jurnalistik harus didukung oleh sistem keamanan informasi yang handal, mengingat sudah jelas bahwa aturan atau undang-undang yang mengatur sistem jurnalistik di sebuah negara telah ditegakkan.

Jelas bahwa tindakan ini merupakan tindakan yang mungkin melanggar etika jurnalistik di AS. Untuk ke depannya diharapkan pemerintah AS bisa memberikan dan menegakkan hukum dengan tidak hanya berdasar pada bagaimana ia melanggar kegiatan tersebut, tetapi juga kelemahan sistem informasi yang menyebabkan dokumen-dokumen tersebut dapat dengan mudah diperoleh. Sehingga pada saatnya nanti, kasus ini bisa menjadi cermin bagi setiap orang, bahkan untuk contoh instansi/pemerintah di suatu negara bahwa sekecil apapun informasi, baik yang sifatnya rahasia maupun tidak rahasia adalah penting untuk dijaga dan diamankan. Berbagai usaha untuk melindungi kelemahan-kelemahan yang ada akan selalu ditingkatkan (upgrade) ketika ditemukan celah yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

 

Referensi :

Ø http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2010/12/11/demokrasi-wikileaks/

Ø http://politik.kompasiana.com/2010/11/30/wikileaks-menyemai-angin-as-diterjang-badai/

Ø http://politik.kompasiana.com/2010/12/02/wikileaks-dan-etika-jurnalistik/

Ø http://politik.kompasiana.com/2010/12/03/wikileaks-vs-amerika/

Ø http://unik.kompasiana.com/2010/12/09/kebebasan-jurnalistik-bukan-kebebasan-informasi-kasus-wikileaks/

 

Source gambar : http://www.tdwclub.com/wp-content/uploads/2010/12/wikileaks.jpg

Senin, 10 Januari 2011

Bagian 4: Peran Mahasiswa di Era Teknologi Informasi

information-technology-25Tidak bisa disangkal lagi apabila sebagian besar mahasiswa-mahasiswa Indonesia adalah orang-orang yang melek akan teknologi. Jika ada beberapa diantara mereka yang belum begitu paham mengenai kaidah teknologi informasi, maka sudah dipastikan mereka adalah kelompok yang kurang beruntung. Jenjang pendidikan tinggi sudah seharusnya dimanfaatkan untuk mengenal lebih dalam perkembangan teknologi informasi sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan pembelajaran yang efektif di masa sekarang ini.

Mahasiswa-mahasiswa yang cerdas dan aktif adalah calon jati diri bangsa Indonesia. Mereka adalah kelompok yang dekat dengan masyarakat, mereka berjuang membela rakyat, dan mempunyai banyak ide kritis yang siap ditunjukkan di segala penjuru dalam berbagai bidang.

Pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi dalam membantu proses administrasi yang sifatnya darurat tidak luput dari peran mahasiswa. Beberapa waktu yang lalu, ketika Indonesia ditimpa berbagai musibah bencana alam, banyak mahasiswa dengan sukarela dan cepat tanggap membantu proses pendataan korban, pengungsi, hingga distribusi bantuan. Semuanya dilakukan secara cepat dengan bantuan infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi yang ada. Ini lebih baik dari beberapa tahun yang lalu ketika teknologi seperti telepon dan internet masih belum berkuasa. Mahasiswa sebagai orang yang terdidik terbukti bisa menjadi rival yang baik untuk membantu kinerja pemerintah dan media massa.

Pihak universitas yang kental akan berbagai macam kegiatan riset dan penelitian, harus secara aktif mendorong mahasiswanya untuk berkarya menghasilkan ide-ide baru yang dapat memajukan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia. Universitas merupakan fasilitator dan media pendukung yang terbaik bagi mahasiswanya yang kesulitan mewujudkan inovasi dan pemikirannya yang terkadang membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.

Peran mahasiswa untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan masyarakat informasi di tahun 2025 tidaklah mustahil jika dicanangkan sejak sekarang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dan dapat direalisasikan secara berkelanjutan yaitu melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mengangkat jargon Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat, yang diadakan setiap semester di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tidak ada salahnya apabila pihak universitas dan pemerintah bekerja sama untuk membentuk tema khusus yang berkaitan dengan pengenalan teknologi informasi di masyarakat, sedangkan mahasiswa bertindak sebagai pelakunya.

Beberapa waktu yang lalu, pengalaman penulis yang pernah mengikuti program KKN PPM, sempat merasakan dampak yang luar biasa. Kegiatan tersebut kebetulan mengangkat tema pokok teknologi informasi. Salah satu kegiatan utama yang diadakan yaitu pengenalan dan pelatihan komputer kepada masyarakat dan pamong desa di Desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman. Daerah tersebut dapat dikatakan termasuk daerah yang sudah merupakan perpaduan antara pedesaan dan perkotaan, dimana masyarakatnya sudah cukup mengenal dunia teknologi informasi.

Dari hasil pengamatan di lapangan, antusiasme masyarakat ketika mengikuti kegiatan tersebut sangatlah tinggi, dengan peserta yang sebagian besar adalah remaja kawula muda. Lain halnya dengan pelatihan yang dilakukan untuk pamong desa yang rata-rata berusia di atas empat puluh tahun, antusiasme mereka untuk belajar komputer sangat rendah. Melihat kenyataan tersebut, ternyata faktor usia masyarakat yang hidup di era informasi juga harus diperhatikan untuk memudahkan akselarasi kemajuan teknologi informasi di tahap selanjutnya. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa kegiatan semacam ini sangat membantu dalam sosialisasi program masyarakat informasi yang digalakkan pemerintah.

Langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh seorang mahasiswa untuk mengatasi kesenjangan tersebut, secara umum dapat dilakukan dengan berbagai tahap dan metode. Pertama, diawali dengan sosialisasi dan pengenalan yang mendasar tentang pentingnya masyarakat informasi agar dapat bersaing dengan dunia global. Kedua, perlunya pelatihan dan pembelajaran secara bertahap sesuai dengan kemampuan sumber daya dan prasarana yang dimiliki masyarakat. Ketiga, menanamkan pola pikir masyarakat akan pentingnya media informasi untuk meningkatkan produktivitas kerja di berbagai aspek kehidupan.

Dengan demikian, sudah saatnya peran mahasiswa dibantu oleh pemerintah dan masyarakat digerakkan di berbagai pendidikan tinggi Indonesia untuk menghadapi masalah kesenjangan digital yang terlalu renggang, sehingga kelak mimpi Indonesia mewujudkan masyarakat informasi benar-benar bisa dirasakan setiap lapisan masyarakat di mana pun mereka tinggal.

 

Source gambar : http://static.howstuffworks.com/gif/information-technology-25.jpg

Referensi

[1] Istiyanto Ph.D., Jazy Eko. Mempersempit Kesenjangan Digital. Majalah e-Indonesia, Volume I, No. 9, Februari 2006.

[2] Organization for Economic Co-Operation and Development, OECD 2001. Understanding the

Digital Divide. OECD Publication, Paris.

[3] Sekarniningsih, Titin. Desain Mobile Community Access Point (M-CAP), Mobile Internet, Depkominfo : Digital Divide atau Kesenjangan Digital di Indonesia. Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya.

[4] http://www.depkominfo.go.id

[5] http://www.detikinet.com/read/2010/12/12/131934/1522642/328/apa-sasaran-utama-pelaksanaan-desa-informasi

[6] http://www.detikinet.com/read/2010/12/12/113456/1522601/328/tifatul-resmikan-14-desa-informasi

[7] http://www.pln.co.id

Jumat, 07 Januari 2011

Bagian 3 : Tantangan, Regulasi, dan Kebijakan Pemerintah Menuju Masyarakat Informasi

digital-divideAda banyak tantangan, regulasi, dan kebijakan pemerintah yang harus segera dilaksanakan untuk menunjang keberhasilan masyarakat informasi di Indonesia, sekaligus memperkecil tingkat kesenjangan digital. Pemerintah dibantu Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo), dalam hal ini adalah sebagai motor utama, penggerak, dan motivator pemberdayaan masyarakat agar sadar akan teknologi.

Pembenahan infrastuktur teknologi informasi dan komunikasi, pembuatan program untuk masyarakat informasi secara berkala, penentuan regulasi dan kebijakan, serta penyediaan fasilitas untuk mendukung keseluruhan sistem ini perlu didiskusikan secara matang oleh berbagai pihak. Tidak hanya antar instansi, tetapi juga mengajak berbagai sekolah, universitas, dan elemen masyarakat untuk turut aktif membantu program-program pemerintah yang bersifat sosialisasi.

Dalam kaitannya dengan pembenahan infrastruktur, pemerintah harus mempersiapkan prioritas dan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah. Hal ini untuk menghindari pembangunan infrastruktur yang tidak tepat sasaran. Misalnya pemerintah menggali berbagai informasi melalui survei-survei yang dilakukan secara periodik tentang keberadaan jaringan informasi dan telekomunikasi.

Pada kenyataannya masih banyak daerah pelosok, pinggiran, maupun perbatasan yang belum terjangkau oleh jaringan listrik, jaringan telepon (BTS dan kabel telepon), serta internet. Selain itu, juga perlu dilakukan penelitian mengenai kondisi sosial, budaya, dan pendidikan masyarakat setempat untuk mengetahui tingkat antusiasme dan kesadaran masyarakat, sehingga dapat dibedakan mana kelompok masyarakat yang sudah siap dan belum siap.

Beberapa waktu yang lalu pemerintah telah membuat beberapa program yang sudah dijalankan dan cukup bisa mendukung terwujudnya masyarakat informasi. Misalnya dengan pembangunan sehari satu juta sambungan listrik yang dilakukan PLN ketika memperingati Hari Listrik Nasional. Kemudian beberapa hari yang lalu Menkominfo, Tifatul Sembiring, juga baru saja meresmikan 14 desa berdering yang terletak di berbagai daerah perbatasan. Yang tidak kalah hebat yaitu peluncuran M-CAP (Mobile Community Access Point) atau dikenal dengan mobil warnet keliling oleh Depkominfo. Jika kegiatan semacam ini giat dilakukan dan berkelanjutan, serta benar-benar diterapkan, maka sedikit demi sedikit target pencapaian pemerintah akan semakin dekat.

Depkominfo sendiri telah menetapkan beberapa tahapan pencapaian untuk menuju masyarakat informasi Indonesia yang meliputi sbb :

  • Desa Perintis (2005) : Pada tahap ini sebagian besar desa belum terhubung dengan fasilitas telekomunikasi. Jumlah desa yang terhubung dengan fasilitas telekomunikasi masih dibawah 50 persen dari jumlah total desa di Indonesia.
  • Desa Berdering Terpadu (2010) : Pada tahap ini telepon dasar sudah tersedia di seluruh desa di Indonesia dengan jumlah sambungan minimal satu satuan sambungan telepon (sst). Layanan yang disediakan pada tahap ini masih terbatas pada layanan komunikasi suara.
  • Desa Online (2015) : Pada tahap ini diharapkan ada peningkatan kualitas dan kuantitas layanan hingga 10 sst untuk 1 desa, dilanjutkan dengan penyediaan barang akses internet.
  • Desa Multimedia (2020) : Pada tahap ini diharapkan pemanfaatan TIK sudah menjadi kebutuhan masyarakat desa dalam aktifitas sehari-hari dan menjadikan TIK sebagai sarana untuk meningkatkan kegiatan perekonomian di desa. Dengan adanya pemahaman yang baik terhadap TIK diharapkan akan menumbuhkan akses informasi baik telepon dan internet. Selain itu, perlu menyediaan konten yang berkelanjutan sehingga desa tersebut menjadi bagian dari komunitas informasi dunia.
  • Masyarakat Informasi (2025) : Hampir 50 persen penduduk Indonesia mempunyai akses informasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Pemaksimalan teknologi informasi hingga ke pelosok pedesaan melalui layanan e-economy dan e-health diharapkan dapat diterapkan.

Seiring dengan pertumbuhan dunia teknologi, terutama yang berhubungan dengan ketersediaan konten informasi, maka pemerintah mau tidak mau juga harus mulai merancang berbagai dasar regulasi dan kebijakan. Sebagai contoh yaitu tentang bagaimana mendidik masyarakat agar selalu membiasakan diri menggunakan konten yang sifatnya edukatif. Atau melindungi setiap individu pengguna media informasi dari hal-hal seperti kejahatan digital, perlindungan privasi, serta hak kebebasan untuk berpendapat.

Pemerintah sendiri telah mengesahkan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pada tahun 2008 yang lalu. Hadirnya Rancangan Peraturan Menteri Konten Multimedia (RPM Konten) beberapa waktu yang lalu juga turut mengundang banyak pertanyaan yang justru merugikan banyak pihak. Di balik hal-hal yang sifatnya kontroversial terkait penyusunan suatu regulasi, hendaknya segera ditindaklanjuti dengan para pelakunya. Perlu diingat bahwa suatu saat nanti juga diperlukan pengkajian ulang dan pembaharuan regulasi yang pernah dibuat, karena perkembangan informasi dan telekomunikasi berlangsung begitu cepat dan berubah-ubah sesuai zamannya.

Kamis, 06 Januari 2011

Bagian 2 : Teknologi Informasi dan Pola Pikir Masyarakat

bridging-the-digital-divideKondisi pendidikan di Indonesia yang masih kurang merata, menyebabkan pola pikir masyarakat Indonesia untuk memahami kaidah teknologi informasi itu sendiri dinilai masih sangat kurang. Mungkin bagi mereka yang pernah mengenyam jenjang pendidikan hingga tingkat Sekolah Menengah Atas pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir, masih dapat memahami seperti apa kehidupan di era informasi seperti sekarang ini.

Beruntung bagi para guru kita yang kebetulan mengambil bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, yang sudah menjadi mata pencaharian mereka sehari-hari. Konsep pemahaman atas prototype-prototype teknologi informasi tentu melekat erat dalam pikiran mereka. Meskipun ada yang sudah paham, tetapi tetap saja masih terdapat perbedaan cara pandang antara mereka yang hidup di kota besar dengan segala infrastrukturnya dan mereka yang hidup di kota kecil/perbatasan/pinggiran yang masih minim, bahkan tanpa infrastruktur.

Di lain sisi, jika dijabarkan lebih luas lagi, maka sebenarnya ada tiga golongan masyarakat Indonesia dalam konsep masyarakat informasi hingga saat ini. Mereka adalah golongan masyarakat melek teknologi informasi, golongan masyarakat informasi menengah, dan golongan masyarakat gagap teknologi.

Masyarakat melek teknologi informasi adalah masyarakat yang dapat dikatakan sudah siap untuk menuju masyarakat informasi dalam arti yang sebenarnya. Mereka adalah orang-orang yang mampu memanfaatkan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal. Secara tidak langsung, pengetahuan mereka tentang dunia teknologi informasi juga sudah baik. Masyarakat golongan ini biasanya terdiri dari orang-orang yang memiliki komputer/laptop sekaligus media elektronik pendukung lainnya, mampu menggunakan internet dengan baik, atau para pakar dan tenaga pendidik di bidang teknologi informasi. Biasanya mereka tinggal di kota-kota besar atau hidup di antara orang yang sama-sama melek teknologi.

Masyarakat informasi menengah adalah golongan masyarakat yang sudah mengenal teknologi informasi dan komunikasi, tetapi belum mampu memanfaatkannya secara maksimal. Mereka adalah orang-orang yang baik secara langsung maupun tidak langsung terkena imbas oleh masyarakat melek teknologi, entah karena pergaulan atau hanya sekedar ikut-ikutan. Biasanya terdiri dari orang-orang yang telah memiliki perangkat telepon genggam (mobile phone) sendiri yang kaya fitur sehingga mereka dapat leluasa menggunakan fasilitas tersebut. Meskipun beberapa golongan ini sudah mengenal internet, tetapi mereka hanya menggunakan fasilitas yang sederhana, murah, dan meriah seperti warnet (warung internet), untuk sekedar menjelajahi berbagai situs yang sedang marak di pasaran secara umum.

Masyarakat gagap teknologi merupakan golongan masyarakat yang sangat tidak siap untuk menjadi masyarakat informasi. Mereka sama sekali tidak paham kaidah teknologi informasi secara umum. Entah itu masih buta dalam menggunakan fasilitas yang ada, infrastruktur yang belum memadai, hingga minimnya pengetahuan yang dikuasai mengenai teknologi informasi dan komunikasi. Mereka mungkin tidak terlalu asing dengan televisi, radio, dan perangkat elektronik sederhana lain. Golongan masyarakat ini merupakan golongan yang jumlahnya paling banyak daripada dua golongan lain. Golongan ini seringkali menjadi korban kesenjangan digital, jauh dari peradaban masyarakat informasi yang jumlahnya lebih sedikit.

Memang bukan pekerjaan mudah untuk mengenalkan teknologi komunikasi ke pedesaan dan daerah tertinggal di seluruh pelosok tanah air. Apalagi, kini baru tujuh persen dari sekitar 210 juta masyarakat Indonesia yang sadar teknologi. Itu saja terdiri dari pengguna komunikasi dari komputer biasa dan handphone, belum ada penggunaan internet. Angka ini sangat jauh dari negara maju lainnya, seperti Jepang dan China, yang sudah menjadi negara produsen, tak hanya pengguna.

Pendidikan memang penting, tetapi jika tidak diimbangi dengan praktek kebiasaan dan kesadaran manusia itu sendiri, maka program menuju masyarakat informasi tidak akan berjalan secara berkesinambungan. Tidak mudah membujuk orang tua kita yang sudah berusia berpuluh-puluh tahun hidup tanpa teknologi digital dipaksa untuk memahami teknologi yang baru muncul di awal milenium ketiga ini.

Pola pikir masyarakat yang masih beranggapan bahwa teknologi modern hanya dimanfaatkan untuk bidang-bidang yang sifatnya administratif/perkantoran seharusnya disudahi. Pada kenyataannya, penggunaan teknologi informasi jika benar-benar ingin diterapkan, tidak hanya terbatas pada hal tersebut. Ada banyak sekali jenis lapangan pekerjaan di daerah pedesaan yang sangat mungkin ditunjang dengan keberadaan teknologi informasi. Misalnya penyediaan aplikasi jual beli sederhana untuk menghitung penjualan sumber daya alam, kemudahan pencarian lapangan kerja bagi mereka yang membutuhkan, hingga kemudahan pemerintah desa untuk mengelola administrasi penduduk.

Memicu orang di pedesaan sadar teknologi, salah satu caranya harus membuat mereka tertarik dan ”iri hati”. Misalnya dengan menampilkan tayangan dan cerita visual tukang sayur di Jakarta yang telah bertransaksi dengan SMS, atau banyak perajin yang langsung bertransaksi dengan internet untuk mengekspor barang langsung ke luar negeri. Dengan demikian, ketika kesadaran warga sudah muncul, maka masyarakat akan langsung menindaklanjuti dengan fasilitas pendukung.

 

Source gambar : http://evcoafrica.org/welcome/wp-content/uploads/2009/07/bridging-the-digital-divide.jpg

Rabu, 05 Januari 2011

Bagian I : Kesenjangan Digital dan Pasar Teknologi Indonesia

divide_resizeSalah satu sektor industri yang sedang berkembang pesat saat ini adalah sektor industri di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Berbagai bidang kehidupan masyarakat di Indonesia mulai terkena dampak global di bidang kemajuan teknologi terkini. Tidak bisa dipungkiri jika setiap individu mulai berlomba untuk mendapatkan akses yang murah, cepat, dan efisien.

Dari maraknya berbagai jenis komunitas maya yang terbentuk melalui jaringan sosial hingga berbagai macam fitur kemunculan platform Web 2.0. Web 2.0 sendiri merupakan sebuah platform baru yang memampukan pengguna (user) dapat saling berbagi sesuatu yang bersifat digital kepadapengguna lain. Misalnya berbagi tulisan (blog, email), berbagi file (file sharing), hingga berbagi komunikasi dua arah (online messenger, video conference).

Perang berbagai jenis perangkat lunak (software) dan aplikasi sederhana, baik yang berbentuk open source (gratisan) maupun yang berbayar, semakin memanjakan pengguna internet untuk menggunakan aplikasi yang ditawarkan. Terlebih dengan dukungan penggunaan piranti portabel seperti berbagai jenis mobile phone yang menawarkan berbagai fitur-fitur ekslusif.

Vendor telekomunikasi di Indonesia dengan beberapa operator layanannya juga ikut meramaikan pasar industri tersebut. Banyak pakar yang mengatakan bahwa bisnis di bidang layanan telekomunikasi & informasi mempunyai pasar yang luas dan menjanjikan prospek yang cerah di masa yang akan datang. Persaingan harga dan kualitas layanan menjadi senjata utama untuk meraih pelanggan yang sebanyak-banyaknya dengan gaya promosi yang berbeda-beda.

Harga komputer, laptop/notebook, mobile phone kaya fitur, modem internet, serta layanan internet semakin menjanjikan di tengah kondisi masyarakat yang haus akan teknologi. Teknologi informasi dan telekomunikasi, keduanya saling mendukung dan melengkapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini.

Kondisi ini memunculkan masalah baru di tingkat pemerataan penggunaan layanan teknologi informasi dan komunikasi yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia. Euforia penggunaan layanan tersebut masih dirasakan hanya di sebagian penjuru kota-kota besar dan maju negeri ini. Masyarakat yang tinggal di pinggiran kota kecil yang jauh dari infrastruktur IT, bahkan listrik, masih harus banyak belajar tentang bagaimana memahami kehidupan di daerah yang sudah melek teknologi.

Hal inilah yang sebenarnya memunculkan istilah kesenjangan digital (digital divide). Kesenjangan digital menjadi perhatian penting di berbagai negara untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di bidang teknologi informasi, salah satunya yaitu di Indonesia. Definisi kesenjangan digial menurut OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development ) tahun 2001, yaitu suatu gap/kesenjangan antar individu, kelompok, bisnis, dan area geografis pada level sosial-ekonomi yang berbeda, dimana sangat membutuhkan akses teknologi informasi dan komunikasi serta penggunaan internet untuk berbagai aktivitas kehidupan.

Menurut data terakhir Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), menyatakan bahwa penetrasi komputer (PC dan laptop) di Indonesia baru 4% dari populasi penduduk atau sekitar 9,2 juta unit. Jauh dari rata-rata kepemilikan komputer di negara-negara Asia Pasifik lainnya. Jika melihat kondisi beberapa negara tetangga terdekat kita, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand, maka tingkat kepemilikan komputer rata-rata mencapai 30% dari jumlah penduduk. Di India, meski tingkat kepemilikan komputer hanya 12 unit per 1000 penduduk (atau hanya 0,12%) namun lapangan kerja dalam bidang IT telah mampu menyedot lebih dari 500.000 pekerja profesional. Angka ini melampaui jumlah pekerja di pusat industri IT Silicon Valley di Amerika Serikat.

Dari kasus India di atas dapat disimpulkan tingkat kesenjangan digital tidak hanya dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya tingkat kepemilikan komputer, tetapi juga tingkat penguasaan dan pemanfaatan media teknologi informasi, baik dalam hal perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), maupun pengetahuan masyarakat akan teknologi informasi.

Untuk mengimbangi dan menyesuaikan diri dengan kecenderungan global, agar semakin jauh dari keterisolasian karena kekurangtahuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi, maka pemerintah melalui Depkominfo telah mencanangkan sebuah program berkelanjutan yang diharapkan pada tahun 2025 mewujudkan masyarakat informasi. Masyarakat informasi yang dimaksud adalah masyarakat Indonesia yang secara merata telah bisa memanfaatkan teknologi informasi dengan baik dan benar.

 

Source gambar : http://mtamim.files.wordpress.com/2007/06/divide_resize.jpg

Selasa, 04 Januari 2011

A Letter to RSI, The 3rd is About A Rockstar

20101229_041253_Cover-JanBulan lalu adalah bulan Desember, penghujung tahun 2010. Seperti biasa, majalah RSI (baca: RollingStone Indonesia) mencatat perjalanan industri musik Indonesia yang terangkum dalam sebuah edisi spesial, kali ini membahas 50 musisi terbesar Indonesia. Saya tidak ingin melewatkan edisi ini begitu saja, karena saya ingin menjadi saksi sejarah dunia musik Indonesia. Akhirnya saya dapatkan segera majalah ini dan mulai membaca bagian per bagian secara “skimming” (membaca cepat).

Majalah ini kini telah menginjak edisi 69 di Indonesia, kurang lebih sekitar lima tahun sembilan bulan (sejak Mei 2004, terbit bulanan). Saya ingat ketika pertama kali membeli majalah ini, edisi dengan cover story Bono U2. Entah kenapa saya sangat ingin membelinya waktu itu, padahal saya masih sekolah di bangku SMA. Uang yang saya gunakan untuk membeli majalah itu adalah uang bulanan sekolah dan saya rela menggunakan uang itu untuk membeli majalah tersebut.

Meskipun sudah dipastikan jika majalah tersebut adalah nama sebuah majalah musik, tetapi isi yang ada didalamnya tidak seratus persen full tentang musik, didalamnya kadang berisi tentang kehidupan musisi, fashion dan mode, film, budaya, teknologi, politik, dan isu-isu masyarakat yang sedang marak yang ditulis oleh berbagai penulis. Bagi saya, tulisan yang dipaparkan didalamnya mencoba disajikan secara jujur, tanpa mengurangi ekslusifitas majalah tersebut dibanding majalah yang lain, karena telah mempunyai ciri khas-nya tersendiri. Itulah salah satu alasan sampai sekarang masih suka membaca majalah tersebut.

Bahkan saya sudah tiga kali mengirim surat pembaca (Letter & Advice) ke RollingStone Indonesia. Surat pertama saya berhasil masuk di edisi entah keberapa, tetapi yang saya ingat surat itu dimuat di edisi dengan cover Madonna yang sarat dengan warna biru (saat itu saya masih sekolah SMA). Wow, begitulah pertama kali saya mendapati surat itu dimuat. Girang sekaligus tertawa karena tidak menyangka sama sekali kalau surat yang saya kirim melalui email itu benar-benar dimuat.

Surat kedua kalau tidak salah saya kirim dua tahun kemudian, saat itu sudah menginjak bangku kuliah. Saya sudah lupa apa isi surat tersebut, tetapi kali ini tidak dimuat karena memang saat itu sedang iseng dan mencoba mengirim surat itu ke RSI. Terlebih waktu itu saya mengirimnya di pertengahan bulan, jadi saya berpikiran jika surat tersebut sudah tidak mampu dimuat karena mungkin rubrik sudah diplot. Untuk surat yang ketiga, surat saya kembali dimuat di majalah itu tepatnya di edisi 69 dengan cover story John Lennon. Seperti judul tulisan saya di atas, berikut saya sertakan tulisan asli surat tersebut (via email):


Beberapa hari sebelum RSI Edisi Desember terbit, saya sempat melihat update status akun Twitter @AdibHidayat yang memberikan link tentang cover story pada edisi tersebut. Ternyata RSI Edisi Desember ini bertajuk "50 Greatest Indonesian Singers", yang tentu saja memuat deretan 50 penyanyi hebat Indonesia sampai saat ini ala RSI, yang biasanya di-vote oleh sederetan musisi-musisi lintas generasi Indonesia.

Sambil mencoba membuka halaman yang tampaknya mengarah ke situs www.rollingstone.co.id itu, dalam hati saya bertanya-tanya apakah mungkin seorang Ariel Peterpan bisa masuk ke dalam daftar tersebut? Karena kebetulan saya seorang penggemar karya-karya Peterpan, mungkin saya lebih menyukai bagaimana band tersebut menghasilkan hits-hits yang muncul sejak tahun 2000an dan segera membelokkan arah industri musik Indonesia ketika itu. Yang banyak menjadi sorotan bagi band tersebut tidak lain Ariel, frontman yang bertugas sebagai vokalis, sekaligus pencipta sebagian besar lagu dan lirik Peterpan, yang menurut saya mempunyai benang merah tersendiri.

Ternyata nama Ariel Peterpan muncul di urutan ke 44 dalam daftar tersebut dan saya sangat beruntung karena tebakan saya benar. Berbagai media sempat heboh atas popularitasnya, entah karena masalah pribadi atau pun masalah yang berhubungan dengan band beberapa tahun yang lalu. Dan kebetulan saat ini juga sedang ditimpa musibah yang lain lagi ceritanya. Citra negatif sering disalahartikan untuk menyalahkan dan mengharamkan segala sesuatu yang pernah dan akan dilakukan. Sebagai penikmat musik, saya merasa hal-hal tersebut bukan menjadi alasan untuk mencoreng penampilan dan karya-karyanya, karena memang tidak ada hubungannya sama sekali.

Beberapa hari kemudian, majalah ini terbit dan saya langsung membelinya. Saya sangat setuju atas komentar Giring, secara teknik vokal mungkin masih banyak yang lebih baik dari Ariel, tetapi pembawaannya di panggung telah bisa menghipnotis pendengarnya dengan hangat dan membuat penonton mengerti isi lagu yang dinyanyikan. Setelah saya cermati satu per satu ke-50 nama yang masuk, menyebut nama Ariel Peterpan dalam daftar tersebut adalah kebanggaan tersendiri, terutama bagi penggemarnya. Bagaimana tidak, ia disandingkan dengan 49 penyanyi yang kebanyakan telah menjadi senior di kancah permusikan Indonesia. Kualitas dan kredibilitas sudah tak bisa diragukan lagi. Berbagai vote dari banyak musisi tentu juga menjadi dasar pemilihan nama tersebut.

Ketika tulisan ini ditulis, saya kembali menyimak akun twitter @AdibHidayat. Ternyata dalam statusnya menginformasikan bahwa Ariel menitipkan sebuah puisi untuk dibacakan pada malam penghargaan "50 Greatest Indonesian Singers". Kabarnya puisi tersebut akan disertakan di edisi RSI berikutnya beserta hasil wawancara langsung dengan Ariel di balik jeruji besi. Meskipun Ariel tidak bisa datang pada malam itu, tetapi kenyataan bahwa ia adalah penyanyi termuda yang mendapatkan penghargaan pada malam itu.

Konsistensi majalah ini untuk memberikan yang terbaik bagi pembacanya telah terbukti. RSI tidak takut untuk memberikan penilaian secara subjektif dengan didasari vote yang dilakukan. Meskipun tentu banyak pendapat bermunculan dari berbagai pihak. Bagi saya, nama-nama yang tercantum dalam daftar tersebut pantas mendapat predikat tersebut. Masih banyak penyanyi Indonesia yang berpotensi menjadi penyanyi hebat di kemudian hari. Pada saatnya nanti, mereka lah yang akan menggantikan senior-seniornya untuk menjadi yang terbaik. Salam untuk RSI. Tetap menjadi yang terbaik!


22456_lgItulah tulisan saya “yang begitu panjang” yang dimuat di edisi 69 RSI, edisi awal tahun Januari 2011. Saya memberi pemikiran tentang Ariel Peterpan (as A Rockstar) atas karya dan perseteruan kehidupan pribadinya akhir-akhir ini sebagai salah satu peraih 50 Greatest Singers ala RSI. Meskipun beberapa potong kata dipenggal agar komentar lain dapat tertampil proporsional, saya tetap bangga pemikiran saya masih layak dipublikasikan dan itu memicu saya untuk terus berkarya dan membaca majalah ini. Saya belajar bahwa ulisan yang baik adalah tulisan yang berkualitas, tidak sekedar copy paste tanpa sumber (menjiplak), bukan tulisan yang asal dibuat tanpa memahami masalah, dan bukan tulisan yang menghasut sesuatu, tetapi tulisan yang jujur, menginpirasi dan membuka pikiran banyak orang. Kita semua bebas berpendapat asal sesuai etika demokrasi, bermasyarakat, dan kebebasan pers, meski hanya melalui tulisan.

Bagi yang belum tahu, majalah RollingStone sendiri adalah majalah internasional yang lahir di negara AS, pendirinya adalah Jann S. Wenner pada tahun 1967 Berarti sekarang kurang lebih berumr 43 tahun dengan ribuan edisi. Awalnya majalah ini adalah sebuah surat kabar biasa hingga tahun 1972, kemudian berevolusi menjadi sebuah majalah. Gaya penulisan trademark RollingStone sendiri juga mempunyai ciri tersendiri, meskipun sudah berulang kali berubah bentuk (tetapi tidak banyak dengan tipe huruf sama). Perubahan format ukuran dan jenis kertas juga sudah beberapa kali dilakukan. Di Indonesia sendiri, perubahan yang pernah terjadi yaitu perubahan ukuran kertas A3 ke A4 m(lebih mudah dibawa/portable tanpa mengurangi isinya) mulai tahun 2009.

Hingga kini majalah ini telah tersebar di lebih dari sepuluh negara dunia dengan bahasa masing-masing, salah satunya yaitu Indonesia. Edisi internasional sendiri banyak mendapat perhatian di dunia internasional, terutama majalah yang bergerak di bidang informasi musik dunia. Sudah puluhan kali beberapa cover dan isi majalah ini menuai beragam protes karena terlalu vulgar dan jujur dalam menyampaikan informasi. Untuk RSI, semoga tetap memberi informasi terbaik dan ekslusif di bidangnya, sesuai dengan jiwa luhur pers Indonesia. Bravo!

 

Source : http://en.wikipedia.org/wiki/Rolling_Stone

Senin, 03 Januari 2011

Tugas PTE – Simulasi PHP Rangkaian NAND TTL

NANDTTL

 

Buka notepad, lalu copy paste kode berikut dengan nama file masing-masing…

1. index.php

<!DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Transitional//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd">
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">
<head>
<meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" />
<title>Simulasi Perhitungan Rangkaian NAND TTL</title>
</head>

<body>
<center>
<h3>Program Simulasi Perhitungan Rangkaian NAND TTL</h3>
<img src="NANDTTL.jpg" /> <br /><br /><br /><br />
<form method="get" action="proses.php">
<table>
<tr>
<td><b>Tegangan Input A (VA)</b></td>
<td>
<input name="inputA" type="text" />Volt
</td>
</tr>
<tr>
<td><b>Tegangan Input B (VB)</b></td>
<td>
<input name="inputB" type="text" />Volt
</td>
</tr>
<tr>
<td><b>VCC</b></td>
<td>
<input name="vcc" type="text" />Volt
</td>
</tr>

<tr>
<td><b>RC (Hambatan C)</b></td>
<td>
<input name="rc" type="text" />Ohm
</td>
</tr>
<tr>
<td><b>IC (Arus C)</b></td>
<td>
<input name="ic" type="text" />Ampere
</td>
</tr>
<tr>
<td><b>Beta</b></td>
<td>
<input name="beta" type="text" required="required" />
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" align="center"><input type="submit" name="submit" value="Submit" /></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" align="center"><i>Oleh : Aditya Rizki Yudiantika (07/252677/TK/33045)</i></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" align="center"><i>Email : buluhijau@gmail.com</i></td>
</tr>
</table>
</form>
</center>
</body>
</html>





2. proses.php




<html>
<head>
<title>Hasil Perhitungan Rangkaian NAND TTL</title>
</head>
<body>
<center>
<?php
$va = $_GET['inputA'];
$vb = $_GET['inputB'];
$vcc = $_GET['vcc'];
$rc = $_GET['rc'];
$ic = $_GET['ic'];
$beta = $_GET['beta'];

$ib = $ic/$beta;
$vce = $vcc - $ic * $rc;



if ($va < 0.7 && $vb < 0.7)
{
$hasil = "HIGH";
}
if ($va > 0.7 && $vb < 0.7)
{
$hasil = "HIGH";
}
if ($va < 0.7 && $vb > 0.7)
{
$hasil = "HIGH";
}
if ($va > 0.7 && $vb > 0.7)
{
$hasil = "LOW";
}



echo "<h3>Hasil Perhitungan Rangkaian NAND TTL</h3>";
echo "<img src='NANDTTL.jpg' /> <br /><br /><br /><br />";
echo "<b>Diketahui sbb :</b><br>";
echo "Tegangan input A (VA) : $va volt<br>";
echo "Tegangan input B (VB) : $vb volt<br>";
echo "Tegangan Vcc : $vcc volt<br>";
echo "Rc : $rc ohm<br>";
echo "Ic : $rc ohm<br>";
echo "Beta : $beta<br><br>";
echo "<b>Hasil Perhitungan</b><br>";
echo "Nilai arus Ib = Ic / beta = $ic / $beta = $ib Ampere<br>";
echo "Nilai tegangan Vce = Vcc - (Ic * Rc) = $vce Volt<br>";

if ($vce <= 0)
{
echo "Transistor saturasi <br>";
}
else
{
echo "Transistor linier, bukan saklar.<br>";
}

echo "Output yang dihasilkan adalah = <b>$hasil</b><br>";
echo "<br><a href='index.php'>>>KEMBALI</a><br>";
echo "<br><i>Oleh : Aditya Rizki Yudiantika (07/252677/TK/33045)</i><br>";
echo "<i>Email : buluhijau@gmail.com</i><br>";


?>
</center>
</body>
</html>





 



3. Jangan lupa letakkan kedua file di atas ke dalam satu folder server PHP



4. Silakan cari bug sebanyak mungkin, lalu kirimkan diskusikan / email ke developer bersangkutan Smile



*penulis masih bingung konsep saturasi dan keadaan linier (bukan saklar) Sad smile

Jumat, 24 Desember 2010

My Books Review of 2010

HOT, FLAT, and CROWDED, karangan Thomas L. Friedman

101627_hot,-flat-and-crowded_pbilimage1Entah mengapa saya selalu ingin membaca buku ini. Pertama kali melihat buku ini yaitu ketika diajak seorang teman jalan-jalan di Gramedia. Tak sengaja saya melihat buku tersebut ada di rak dan kemudian saya dekati untuk mencari isi tahu buku tersebut. Mungkin sedang terbawa mood saat itu yang sedang bergema isu Global Warming. Saya juga sempat tertarik dengan isu tersebut. Terlebih pengarangnya adalah Thomas L. Friedman yang juga penulis buku best seller The World is Flat. Awalnya sedari dulu saya memang menginginkan buku tersebut, tetapi sudah sulit ditemukan di toko-toko buku. Sudah beberapa kali saya di berbagai kesempatan menanyakan ketersediaan buku tersebut. Akhirnya pikiran saya tergerak untuk membeli buku ini beberapa hari kemudian. Kalau tidak salah, buku ini saya beli sekitar bulan Februari 2010.Open-mouthed smile

Bukunya cukup tebal, ada sekitar 700an halaman. Pikir saya pembahasan buku tersebut pasti tidak jauh dari yang ditulis di buku Friedman sebelumnya “The World is Flat”. Di buku “HOT, FLAT, and CROWDED” ini, penulis lebih banyak bercerita dan pemaparan berbagai fakta atas isu-isu global warming. Diawali dengan pembahasan definisi HOT, FLAT, baru kemudian CROWDED. Ketiga istilah tersebut mendeskripsikan bahwa keadaan bumi saat ini sedang dalam keadaan panas (global warming), flat (dimana semua orang dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa batas, misal dengan adanya jaringan maya), dan crowded (seiring dengan pertambahan populasi manusia dunia yang semakin meningkat dan padat).

Memang banyak fakta yang ditampilkan secara utuh dalam buku tersebut, sehingga membuat pembaca akan sering mengerutkan dahi, memahami setiap pembahasannya. Mungkin salah satu kekurangan lain buku ini adalah penggunaan kata-kata ilmiah dan  merupakan hasil terjemahan versi asli dalam bahasa Inggris, sehingga terkadang sulit dicerna maksudnya. Buku ini akan menyadarkan kita semua, para penghuni bumi, untuk selalu menjaga bumi agar tetap hijau, sekecil apa pun itu usaha kita. Banyak contoh-contoh kasus yang diangkat dalam buku ini seputar penghematan dan efisiensi energi ramah lingkungan. Ulasannya memang banyak dicontohkan dan mengangkat masalah-masalah yang ada di Amerika. Bisa dimaklumi karena penulis merupakan warga negara tersebut, selain itu Amerika juga dikenal sebagai negara yang mempunyai pengaruh besar di dunia (adidaya).

Setelah membaca buku ini saya belajar banyak hal yang bisa disimpulkan bahwa  kehidupan kita ini ternyata terdiri dari kompleksitas yang tidak disadari bahwa semuanya saling mempengaruhi. Tidak mudah memperbaharui energi yang lama terbarukan untuk memenuhi kehidupan vital saat ini dan masa depan. Dari buku ini juga, saya juga menjadi tertarik untuk melihat film An Inconvenient Truth, sebuah film dokumenter yang disajikan oleh ahli/pakar global warming Amerika, Al Gore. Ia juga seorang mantan wakil presiden Amerika ke-45 dari tahun 1993-2001, dimana ketika itu Bill Clinton sebagai wakilnya. Ia sempat memperoleh penghargaan nobel perdamaian di tahun 2007 atas keaktifannya dalam meneliti Climate Change. Sampai tulisan ini dibuat, saya belum sempat membaca semua isinya, masih ada beberapa halaman akhir yang mungkin nanti akan jadi PR tersendiri buat saya, hehe…Rolling on the floor laughing

Pak Beye dan Politiknya, karangan Wisnu Nugroho

pak beye dan politiknya - kompasKalau buku yang satu ini saya temui di buku Togamas, yang saat itu kebetulan sedang iseng mencari buku referensi kuliah. Saya tiba-tiba terpikirkan untuk membeli sebuah buku bacaan yang tidak ada hubungannya dengan kuliah saya. Lantas saya mencari-cari buku yang berada di deretan buku-buku rilisan terbaru di beranda terdepan toko tersebut. Entah jackpot atau tidak saya terkesima dengan buku ini. Tampaknya saya sedang haus informasi akan pergulatan politik Indonesia. Sambil memberanikan diri menjadi warga negara Indonesia yang baik dan benar. Hehe…

Buku ini ditulisi oleh seorang wartawan senior Kompas, Wisnu Nugroho, yang mengaku seringkali meliput keseharian Pak Beye, begitu penulis menyebut presiden RI saat ini. Setelah saya cermati, buku ini ternyata berisi kumpulan posting artikel blognya di Kompasiana, beserta foto-foto ekslusif hasil jepretannya yang dikemas dalam  bentuk yang rapi, dipilah-pilah sesuai dengan topiknya. Buku ini merupakan seri kedua dari tetralogi lain yang telah dan sedang dikerjakan penulis. Sesuai judulnya, di edisi ini penulis banyak bercerita tentang politik Pak Beye, dalam hal pemerintahan, kampanye, hingga yang paling unik, yaitu klenik-klenik yang secara sengaja atau tidak sengaja selalu mengandung angka 9, angka favorit Pak Beye. Dari lukisan yang ada di pendopo rumah Pak Beye, tanggal lahir, nomor partai, dan lain-lain.

Gaya penulisan yang santai dan diselingi guyonan dengan jargon andalannya “mengangkat yang tidak penting agar yang penting tetap penting”. Meskipun artikel-artikel yang ditulis singkat, antara dua sampai tiga halaman saja, tetapi foto-foto yang disertakan semakin membuat buku ini tidak membosankan. Tak jarang penulis menyinggung atau mengkritik pemerintah secara halus bin malu-malu dan membuat pembacanya menerka apakah betul atau tidak pendapatnya itu. Saya pikir ini adalah salah satu contoh indahnya kebebasan pers di pemerintahan saat ini dibanding ketika Orde Baru zaman Pak Harto. Saya yakin jika Pak Harto masih berkuasa sampai detik ini, maka buku ini tidak akan pernah diciptakan. Bagi Anda yang ingin mengenal lebih dekat dengan politik Pak Beye, buku ini bisa menjadi sajian yang hangat tanpa harus mengerutkan dahi.Nerd smile

Soe Hok-gie Sekali Lagi…, karangan Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan, dkk.

7299756Buku ini saya dapat juga secara tidak sengaja. Gara-gara baca buku “Pak Beye dan Politiknya”, saya jadi ketagihan membaca buku. Ketika itu saya niatnya ingin membeli buku yang sudah direncanakan sebelumnya. Itung-itung sambil menambah referensi, saya putuskan untuk mencari buku bacaan lain. Tidak ada niatan lain kecuali melihat kumpulan buku di papan bertuliskan “Best Seller”. Sempat bingung memilah buku-buku yang ada di bagian itu. Selain bukunya tebal dan harganya murah, saya baca saja komentar pembaca buku di balik buku itu. Tanpa pikir panjang, langsung saya beli buku itu. Kebetulan mood waktu itu adalah tentang politik.

Rasa penasaran saya tentang Soe Hok-gie yang banyak dikagumi orang juga menambah perhatian saya kepada buku itu. “Apa sih yang membuat sosoknya disegani?” Itu yang ada di pikiran saya ketika itu. Buku ini tampaknya terdiri dari beberapa bab yang ditulis oleh orang-orang yang berbeda. Saya mulai paham ketika membaca kata pengantar atau semacam kata pembuka buku tersebut yang disampaikan oleh perwakilan penulis. Buku tersebut diawali dengan tulisan-tulisan tragedi tewasnya Soe Hok-gie dan Idhan Lubis ketika mendaki Gunung Semeru di tahun 1969. Ditulis secara runtut per kejadian oleh teman-temannya Soe Hok-gie yang masih hidup ketika buku ini ditulis, diantaranya Rudy Badil.

Bagian yang kedua lebih menceritakan ke sosok seorang Soe Hok-gie di mata teman-teman kuliahnya pada waktu itu. Termasuk cerita tentang pemikiran-pemikirannya yang cerdas, kehidupan dan keseharian dengan beberapa teman, hingga kisah cintanya. Semua disampaikan oleh saksi-saksi hidup ketika itu. Saya sempat terharu membaca tulisan Kartini, yang sekarang masih menjadi dosen di UI. Beliau banyak bercerita tentang kisah cintanya dengan Soe Hok-gie, bagaimana ia memandang Soe Hok-gie sebagai seorang yang menyenangkan hingga mempengaruhi kehidupan sehari-harinya. Tidak hanya si Ker yang mengagumi, teman-teman yang lain ternyata sangat kagum pada sosok Hok-gie.

Bagian yang ketiga membahas cerita orang-orang yang tidak sempat berkenalan dan bertemu Soe Hok-gie. Tetapi mereka mengagumi sosoknya. Hingga dibuatkan sebuah film berjudul GIE oleh Mira Lesmana, dimana sosok Gie diperankan oleh Nicholas Saputra. Kedua orang tersebut juga ikut menyumbangkan pengalamannya tentang Soe Hok-gie. Bahkan seorang S2 dari Australia, John Maxwell mengambil tokoh Soe Hok-gie sebagai topik disertasinya. Bagian yang keempat menyajikan beberapa tulisan Soe Hok-gie yang sempat diterbitkan dalam berbagai surat kabar atas pandangan-pandangan politiknya dan cerita-cerita pendakian.

Saya banyak mendapat banyak pelajaran dari buku ini. Soe Hok-gie bagi saya adalah seorang pemuda yang idealis, pluralis, berjiwa seni, baik hati, cinta tanah air, dan intelek. Ia seorang yang bisa melindungi dan menyemangati teman-temannya. Cita-citanya yang luhur untuk mewujudkan Indonesia yang makmur dari segala bentuk kecurangan menjadi inspirasi bagi setiap orang yang ingin melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Jika Anda tertarik dengan sepak terjang seorang Soe Hok-gie, buku ini bisa menjadi inspirasi terbaik bagi kita yang masih muda.Be right back