Tampilkan postingan dengan label Dunia Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Musik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

A Letter to RSI, The 3rd is About A Rockstar

20101229_041253_Cover-JanBulan lalu adalah bulan Desember, penghujung tahun 2010. Seperti biasa, majalah RSI (baca: RollingStone Indonesia) mencatat perjalanan industri musik Indonesia yang terangkum dalam sebuah edisi spesial, kali ini membahas 50 musisi terbesar Indonesia. Saya tidak ingin melewatkan edisi ini begitu saja, karena saya ingin menjadi saksi sejarah dunia musik Indonesia. Akhirnya saya dapatkan segera majalah ini dan mulai membaca bagian per bagian secara “skimming” (membaca cepat).

Majalah ini kini telah menginjak edisi 69 di Indonesia, kurang lebih sekitar lima tahun sembilan bulan (sejak Mei 2004, terbit bulanan). Saya ingat ketika pertama kali membeli majalah ini, edisi dengan cover story Bono U2. Entah kenapa saya sangat ingin membelinya waktu itu, padahal saya masih sekolah di bangku SMA. Uang yang saya gunakan untuk membeli majalah itu adalah uang bulanan sekolah dan saya rela menggunakan uang itu untuk membeli majalah tersebut.

Meskipun sudah dipastikan jika majalah tersebut adalah nama sebuah majalah musik, tetapi isi yang ada didalamnya tidak seratus persen full tentang musik, didalamnya kadang berisi tentang kehidupan musisi, fashion dan mode, film, budaya, teknologi, politik, dan isu-isu masyarakat yang sedang marak yang ditulis oleh berbagai penulis. Bagi saya, tulisan yang dipaparkan didalamnya mencoba disajikan secara jujur, tanpa mengurangi ekslusifitas majalah tersebut dibanding majalah yang lain, karena telah mempunyai ciri khas-nya tersendiri. Itulah salah satu alasan sampai sekarang masih suka membaca majalah tersebut.

Bahkan saya sudah tiga kali mengirim surat pembaca (Letter & Advice) ke RollingStone Indonesia. Surat pertama saya berhasil masuk di edisi entah keberapa, tetapi yang saya ingat surat itu dimuat di edisi dengan cover Madonna yang sarat dengan warna biru (saat itu saya masih sekolah SMA). Wow, begitulah pertama kali saya mendapati surat itu dimuat. Girang sekaligus tertawa karena tidak menyangka sama sekali kalau surat yang saya kirim melalui email itu benar-benar dimuat.

Surat kedua kalau tidak salah saya kirim dua tahun kemudian, saat itu sudah menginjak bangku kuliah. Saya sudah lupa apa isi surat tersebut, tetapi kali ini tidak dimuat karena memang saat itu sedang iseng dan mencoba mengirim surat itu ke RSI. Terlebih waktu itu saya mengirimnya di pertengahan bulan, jadi saya berpikiran jika surat tersebut sudah tidak mampu dimuat karena mungkin rubrik sudah diplot. Untuk surat yang ketiga, surat saya kembali dimuat di majalah itu tepatnya di edisi 69 dengan cover story John Lennon. Seperti judul tulisan saya di atas, berikut saya sertakan tulisan asli surat tersebut (via email):


Beberapa hari sebelum RSI Edisi Desember terbit, saya sempat melihat update status akun Twitter @AdibHidayat yang memberikan link tentang cover story pada edisi tersebut. Ternyata RSI Edisi Desember ini bertajuk "50 Greatest Indonesian Singers", yang tentu saja memuat deretan 50 penyanyi hebat Indonesia sampai saat ini ala RSI, yang biasanya di-vote oleh sederetan musisi-musisi lintas generasi Indonesia.

Sambil mencoba membuka halaman yang tampaknya mengarah ke situs www.rollingstone.co.id itu, dalam hati saya bertanya-tanya apakah mungkin seorang Ariel Peterpan bisa masuk ke dalam daftar tersebut? Karena kebetulan saya seorang penggemar karya-karya Peterpan, mungkin saya lebih menyukai bagaimana band tersebut menghasilkan hits-hits yang muncul sejak tahun 2000an dan segera membelokkan arah industri musik Indonesia ketika itu. Yang banyak menjadi sorotan bagi band tersebut tidak lain Ariel, frontman yang bertugas sebagai vokalis, sekaligus pencipta sebagian besar lagu dan lirik Peterpan, yang menurut saya mempunyai benang merah tersendiri.

Ternyata nama Ariel Peterpan muncul di urutan ke 44 dalam daftar tersebut dan saya sangat beruntung karena tebakan saya benar. Berbagai media sempat heboh atas popularitasnya, entah karena masalah pribadi atau pun masalah yang berhubungan dengan band beberapa tahun yang lalu. Dan kebetulan saat ini juga sedang ditimpa musibah yang lain lagi ceritanya. Citra negatif sering disalahartikan untuk menyalahkan dan mengharamkan segala sesuatu yang pernah dan akan dilakukan. Sebagai penikmat musik, saya merasa hal-hal tersebut bukan menjadi alasan untuk mencoreng penampilan dan karya-karyanya, karena memang tidak ada hubungannya sama sekali.

Beberapa hari kemudian, majalah ini terbit dan saya langsung membelinya. Saya sangat setuju atas komentar Giring, secara teknik vokal mungkin masih banyak yang lebih baik dari Ariel, tetapi pembawaannya di panggung telah bisa menghipnotis pendengarnya dengan hangat dan membuat penonton mengerti isi lagu yang dinyanyikan. Setelah saya cermati satu per satu ke-50 nama yang masuk, menyebut nama Ariel Peterpan dalam daftar tersebut adalah kebanggaan tersendiri, terutama bagi penggemarnya. Bagaimana tidak, ia disandingkan dengan 49 penyanyi yang kebanyakan telah menjadi senior di kancah permusikan Indonesia. Kualitas dan kredibilitas sudah tak bisa diragukan lagi. Berbagai vote dari banyak musisi tentu juga menjadi dasar pemilihan nama tersebut.

Ketika tulisan ini ditulis, saya kembali menyimak akun twitter @AdibHidayat. Ternyata dalam statusnya menginformasikan bahwa Ariel menitipkan sebuah puisi untuk dibacakan pada malam penghargaan "50 Greatest Indonesian Singers". Kabarnya puisi tersebut akan disertakan di edisi RSI berikutnya beserta hasil wawancara langsung dengan Ariel di balik jeruji besi. Meskipun Ariel tidak bisa datang pada malam itu, tetapi kenyataan bahwa ia adalah penyanyi termuda yang mendapatkan penghargaan pada malam itu.

Konsistensi majalah ini untuk memberikan yang terbaik bagi pembacanya telah terbukti. RSI tidak takut untuk memberikan penilaian secara subjektif dengan didasari vote yang dilakukan. Meskipun tentu banyak pendapat bermunculan dari berbagai pihak. Bagi saya, nama-nama yang tercantum dalam daftar tersebut pantas mendapat predikat tersebut. Masih banyak penyanyi Indonesia yang berpotensi menjadi penyanyi hebat di kemudian hari. Pada saatnya nanti, mereka lah yang akan menggantikan senior-seniornya untuk menjadi yang terbaik. Salam untuk RSI. Tetap menjadi yang terbaik!


22456_lgItulah tulisan saya “yang begitu panjang” yang dimuat di edisi 69 RSI, edisi awal tahun Januari 2011. Saya memberi pemikiran tentang Ariel Peterpan (as A Rockstar) atas karya dan perseteruan kehidupan pribadinya akhir-akhir ini sebagai salah satu peraih 50 Greatest Singers ala RSI. Meskipun beberapa potong kata dipenggal agar komentar lain dapat tertampil proporsional, saya tetap bangga pemikiran saya masih layak dipublikasikan dan itu memicu saya untuk terus berkarya dan membaca majalah ini. Saya belajar bahwa ulisan yang baik adalah tulisan yang berkualitas, tidak sekedar copy paste tanpa sumber (menjiplak), bukan tulisan yang asal dibuat tanpa memahami masalah, dan bukan tulisan yang menghasut sesuatu, tetapi tulisan yang jujur, menginpirasi dan membuka pikiran banyak orang. Kita semua bebas berpendapat asal sesuai etika demokrasi, bermasyarakat, dan kebebasan pers, meski hanya melalui tulisan.

Bagi yang belum tahu, majalah RollingStone sendiri adalah majalah internasional yang lahir di negara AS, pendirinya adalah Jann S. Wenner pada tahun 1967 Berarti sekarang kurang lebih berumr 43 tahun dengan ribuan edisi. Awalnya majalah ini adalah sebuah surat kabar biasa hingga tahun 1972, kemudian berevolusi menjadi sebuah majalah. Gaya penulisan trademark RollingStone sendiri juga mempunyai ciri tersendiri, meskipun sudah berulang kali berubah bentuk (tetapi tidak banyak dengan tipe huruf sama). Perubahan format ukuran dan jenis kertas juga sudah beberapa kali dilakukan. Di Indonesia sendiri, perubahan yang pernah terjadi yaitu perubahan ukuran kertas A3 ke A4 m(lebih mudah dibawa/portable tanpa mengurangi isinya) mulai tahun 2009.

Hingga kini majalah ini telah tersebar di lebih dari sepuluh negara dunia dengan bahasa masing-masing, salah satunya yaitu Indonesia. Edisi internasional sendiri banyak mendapat perhatian di dunia internasional, terutama majalah yang bergerak di bidang informasi musik dunia. Sudah puluhan kali beberapa cover dan isi majalah ini menuai beragam protes karena terlalu vulgar dan jujur dalam menyampaikan informasi. Untuk RSI, semoga tetap memberi informasi terbaik dan ekslusif di bidangnya, sesuai dengan jiwa luhur pers Indonesia. Bravo!

 

Source : http://en.wikipedia.org/wiki/Rolling_Stone

Minggu, 26 April 2009

Tentang MIDI (Musical Instrument Digital Interface)


Musical Instrument Digital Interface (MIDI) adalah sebuah standar hardware dan software internasional untuk saling bertukar data (seperti kode musik dan MIDI Event) di antara perangkat musik elektronik dan komputer dari merek yang berbeda. Standar MIDI ditetapkan pada tahun 1982 yang memungkinkan alat-alat musik elektronik seperti keyboard, komputer, dan peralatan elektronik lainnya untuk saling berkomunikasi, melakukan kontrol, serta sinkronisasi dengan peralatan music lain. Standar MIDI memungkinkan komputer, synthesizers, pengontrol MIDI, kartu suara, sampel-sampel berbagai alat musik serta ketukan drum, mampu mengendalikan peralatan satu dengan yang lain, serta sistem pertukaran data (sebagai data mentah yang terenkapsulasi). MIDI tidak mengirimkan sinyal audio atau media, tetapi mengirimkan sebuah "event message" seperti pitch dan intensitas not-not music untuk dimainkan, juga sinyal kontrol sebagai parameternya seperti volume, vibrato and panning, cues, dan clock signal untuk mengatur tempo. Sebagai protocol elektronik, standar MIDI sangat penting untuk diadopsi secara luas di berbagai industri, seperti dalam produk alat-alat musik, komputer, ponsel, dan sebagainya dari perusahaan-perusahaan terkenal seperti Microsoft, Apple, Nokia, Sony, Yamaha, & ratusan lebih perusahaan produk sejenis.
Semua pengontrol yang kompatibel dengan standar MIDI, instrumen musik dan berbagai perangkat lunak MIDI mengikuti spesifikasi MIDI 1,0 yang sama, sehingga setiap MIDI menafsirkan sebuah message dengan cara yang sama, maka akan dapat berkomunikasi dan mengerti antara perangkat satu dengan lainnya yang terhubung. Komposisi dan susunan MIDI mempunyai keuntungan dari spesifikasi MIDI 1.0 dan teknologi General MIDI (GM) yaitu memperbolehkan file data music dipakai bersama-sama yang berasal dari berbagai file, karena berbagai ketidakcocokan alat-alat elektronik yang menggunakan standar, sekumpulan command dan parameter yang berbeda. Karena musik adalah data sederhana, jika dibandingkan dengan rekaman audio, maka ukuran file yang dihasilkan jauh lebih kecil.
Beberapa program komputer yang memperbolehkan manipulasi data musik seperti penyusunan untuk sebuah orkestra dari suara instrument yang tersinkronisasi sangat mungkin. Data yang dapat disimpan sebagai Standar MIDI File (SMF),didistribusikan secara digital, kemudian direproduksi oleh komputer atau alat elektronik yang sesuai standar MIDI, GM, dan SMF. Banyak orang percaya bahwa Standar MIDI File sebagai format distribusi musik akan lebih menarik bagi pengguna komputer karena ukuran file yang kecil.

Interface MIDI
Interface MIDI terdiri dari 2 komponen:
1. Perangkat Keras
Hardware yang terhubung ke peralatan (alat instrumen / komputer)
2. Data Format
Berkaitan dengan system pengkodean informasi yang meliputi spesifikasi instrument, awal / akhir nada, frekuensi, dan volume suara

MIDI Device
MIDI device (misalnya synthesizer) berkomunikasi melalui channel yang terdiri dari berbagai parameter. Pada umumnya piranti standard memiliki 16 channel yang mampu menampung 128 macam instrumen (termasuk noise effect), dimana 1 channel dapat memainkan 3 – 16 note. Komponen-Komponen MIDI device :
1. Sound generator --> pembangkit suara synthesizer
2. Microprocessor --> mengirim / menerima MIDI message
3. Keyboard --> mengontrol synthesizer secara langsung
4. Control Panel --> mengatur fungsi-fungsi selain nada dan durasi (volume, jenis suara, dan parameter lainnya)
5. Auxiliary Controllers --> memanipulasi nada (modulation, pitch, dll)
6. Memory

File Formats
Ada ada tiga jenis format SMF, format yang diberikan SMF ditentukan dalam file header. File berformat 0 berisi single track dan merepresentasikan kinerja sebuah track. Format 1 berisi sejumlah track, memungkinkan untuk mempertahankan struktur track sequencer, dan juga merepresentasikan kinerja sebuah track. Format 2 mempunyai sejumlah track, dimana masing-masing merepresentasikan kinerja sebuah track. Sequencers umumnya tidak mendukung Format 2. Koleksi file berformat SMF banyak ditemukan pada berbagai situs web, paling sering dengan ekstensi .mid. Selain berekstensi .mid, ada beberapa format lain yang mendukung MIDI seperti Midi Karaoke File (.KAR) Format, XMF File Formats, RIFF-RMID File Format, Extended RMID File Format, dan Extended Midi File (.XMI) Format.

Referensi :
http://en.wikipedia.org/wiki/Musical_Instrument_Digital_Interface
http://id.wikipedia.org/wiki/MIDIhttp://www.midi.org/aboutmidi/index.php

Kamis, 12 Maret 2009

Semua Tentang "Peterpan"

Bagiku mereka adalah sebuah band yang fenomenal. Dengan mengambil jalur musik alternatif, band yang pada awalnya digawangi oleh Ariel (vokal), Uki (rhytm), Lukman, (melodi) Reza (drum), Andika (keyboard), dan Indra (bass) itu, telah berhasil meraih Mimpi Yang Sempurna, yang juga sebagai lagu pertama yang dikompilasikan bersama album Kompilasi Kisah 2002 Malam pada tahun 2002. Lagu tersebut berhasil menyita perhatian masyarakat Indonesia sebagai lagu wajib para pengamen di masa itu, dan rasanya kenyataan itu membuat mereka merilis album pertama mereka. Lagu Sahabat merupakan single pertama di album perdana mereka bertajuk Taman Langit. Mereka semua pada mulanya adalah sekumpulan Sahabat yang Satu Hati dalam menentukan arah musik dengan benang merah mereka sendiri di belantara musik Indonesia. Semua Tentang Kita merupakan salah satu lagu favorit dengan nuansa akustik Yang Terdalam di album itu. Setelah enam tahun sejak terbentuknya band mereka, dua personilnya Andika dan Indra dipecat Dan Hilang kebersamaan itu tertiup waktu, karena perbedaan idealisme. Mungkin Kita Tertawa ketika melihat berita itu hanya sebuah lelucon, tetapi itu benar-benar terjadi ketika harus melepas Topeng mereka dari ketidakcocokan yang terpendam dalam hati masing-masing personelnya. Nama Peterpan kini hampir di penghujung akhir jalan kesuksesan mereka yang telah Tertinggalkan Waktu beberapa tahun kebersamaan mereka. Kini mereka berharap semuanya akan baik-baik saja dan berjalan sesuai dengan jalannya masing-masing seperti tertuang dalam lirik lagu Aku dan Bintang dalam kenangan mereka sejak saat itu.

Terlepas dari itu semua, setelah sukses menggelar tur sekaligus rekor MURI dalam Konser 6 Kota dalam 24 jam album Taman Langit, di akhir konsernya mereka merilis album keduanya bertajuk Bintang di Surga dengan single pertama Ada Apa Denganmu. Bagi Aku, ini adalah sebuah awal yang indah untuk membuktikan eksistensi musik mereka di Indonesia. Bahkan, album ini tercatat sebagai album Indonesia terlaris yang berhasil menembus angka tiga juta copy. Angka tersebut merupakan sebuah angka yang Di Atas Normal untuk penjualan album artis musik Indonesia pada umumnya. Dukungan para penggemarnya di album pertama membuahkan sebuah mahakarya berupa album tersebut yang kabarnya diselesaikan hanya dalam waktu satu minggu, waktu yang terlampau singkat untuk penggarapan sebuah album. Peterpan seolah menerima kenyataan manis atas Khayalan Tingkat Tinggi yang mereka idamkan sejak lama. Hal ini semakin meyakinkan bahwa pada saatnya, Mungkin Nanti mereka akan menjadi salah satu band besar yang telah mengukir sejarah di peta musik Indonesia. Masa Lalu Tertinggal mereka yang hanya sebuah impian kelak menjadi sebuah inspirasi bagi banyak orang untuk selalu kreatif dalam membuat karya. Sekarang dapatlah Ku Katakan Dengan Indah bahwa Peterpan adalah sebuah band besar yang dicintai banyak penggemarnya hingga titik penghabisan, meskipun personelnya sudah tidak utuh lagi alias berada di Dua Dalam Satu Dunia (2 DSD) musik, yaitu Peterpan berlogo Bulu Merah (Ariel, Uki, Lukman, Reza) dan The Titans (Andika, Indra). Semoga apa yang mereka raih saat ini adalah yang terbaik bagi mereka tanpa melupakan semua titik emas yang ada "Di Belakangku" masing-masing personel di masa lalu.
Kurang lebih satu tahun setelah perilisan album Bintang di Surga, Peterpan kembali mengeluarkan tajinya sekaligus membuktikan bahwa mereka adalah band produktif dengan merilis album soundtrack film bioskop Alexandria. Dalam album tersebut mereka memasukkan lima lagu baru ditambah lima lagu lama yang diaransemen ulang dengan irama yang berbeda dari dua album sebelumnya seperti lagu Sahabat, Ku Katakan Dengan Indah, Aku dan Bintang, Mungkin Nanti, serta Di Belakangku. Benang merah musik mereka tampaknya masih terdengar jelas di telinga para pendengarnya dengan single andalan berjudul Tak Bisakah. Bagi sang Peterpan, ungkapan "Jauh Mimpiku" untuk menjadi band mandul yang hanya bisa merilis satu atau dua album rasanya terhapus sudah. Mereka menganggap semua hal yang sifatnya "Membebaniku" seperti penggarapan album sebelumnya kini bisa lebih santai. Terlebih pembuatan lirik dan lagu di album ketiganya itu semua personelnya ikut terlibat, tidak seperti dua album sebelumnya yang kebanyakan didominasi oleh Ariel, sang vokalis. Tampaknya masalah demi masalah setelah pembuatan album ini kian mengerucut seiring dengan selesainya penggarapan album selanjutnya yang molor hingga dua tahun. Perbedaan ide antar personelnya memaksa sang leader, Ariel, harus rela Menunggu Pagi untuk mendapatkan titik temu. Pada akhirnya dengan segala resiko dan keputusan yang ada antara Ariel bersama produsernya, Noey, mereka sepakat untuk mengeluarkan Andika dan Indra dari bendera Peterpan. Kenyataan tersebut seolah tak ada lagi hal yang perlu dibicarakan demi menjaga kepopuleran nama Peterpan sekalipun mereka bertanya kepada Langit Tak Mendengar.
Dengan menyisakan empat personel kawakannya, Peterpan akhirnya sukses menelurkan album keempatnya bertajuk Hari Yang Cerah. Kontroversi seputar penggantian nama Peterpan atas kesepakatan dua anggotanya, Andika dan Indra, menjadi sebuah hutang yang harus dibayar setelah mereka menyelesaikan kontrak album terakhir dengan nama Peterpan di album selanjutnya. Hits Menghapus Jejakmu, yang juga single pertama di album ini, menggema dimana-mana seolah lagu ini adalah lagu ciptaan seorang dewa musik. Tak hanya itu, album ini juga merupakan suatu penutup luka di Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi bagi personel yang tersisa. Mereka kini semakin Bebas dalam bertukar ide dan pikiran, tetapi harus tetap membawa benang merah musik yang sudah melekat di nama mereka. Kata-kata untuk Cobalah Mengerti dalam memahami alur musik Peterpan, sudah tak lagi disimpan kedua personelnya yang dipecat. Alhasil pada saat yang sama, bersama The Titans, mereka mengeluarkan album perdananya yang isinya diklaim berisi lagu-lagu ciptaan dua personelnya yang tidak menunjukkan ciri khas musik Peterpan. Seolah mereka ingin Melawan Dunia yang kini dikuasai oleh kubu para sahabat Peterpan yang banyak bersemayam di Kota Mati Peterpan. Peterpan seakan ingin berkata Lihat Langkahku dalam meraih kesuksesan ini kepada The Titans. Akan tetapi, mereka terlihat bertarung dengan sengitnya, meskipun Peterpan harus puas dengan kelembutan Sally Sendiri yang bersembunyi Di Balik Awan yang justru mendatangkan hujan keajaiban.
Dilema Besar yang telah menghantui lorong-lorong kebesaran Peterpan sudah saatnya diakhiri dengan merilis album terakhir mereka dengan nama Peterpan. Nama yang indah, album ini pun diberi judul Sebuah Nama Sebuah Cerita, sebuah album yang berisi tiga puluh lagu dengan empat lagu baru dan sisanya lagu-lagu hits yang ada di album sebelumnya. Album ini menyiratkan kepada para penggemarnya bahwa nama Peterpan tak lama lagi akan menjadi sebuah kenangan di belantika musik Indonesia masa mendatang. Mereka memastikan akan tetap berkarya dengan nama baru mereka Walau Habis Terang sekalipun, tetap menggunakan warna musik yang selama ini mereka usung. Lagu lama yang dulu pernah dipopulerkan oleh Alm. Chrisye, Kisah Cintaku, kini disukseskan kembali oleh mereka dengan gaya musik Peterpan. Hadirnya logo bulu merah di atas nama Peterpan membuat penggemarnya bertanya-tanya tentang arti logo tersebut, yang kabarnya bakal menjadi logo di nama baru mereka yang masih dalam tahap pencarian. Hingga suatu saat mereka membuat sebuah patung replika enam personel pendirinya untuk dipajang di Monumen Nasional, Jakarta sebagai patung memorabilia nama Peterpan. Suatu hal yang jarang dilakukan band-band di Indonesia bahkan di dunia, meskipun sebagian orang menganggap hal tersebut terlalu berlebihan. Memang segala sesuatu pasti akan berakhir dengan sendirinya mengikuti jejak-jejak roda putar bumi hingga terhenti, bahwa sesungguhnya Tak Ada Yang Abadi untuk mengarungi samudra musik yang berlimpah di tanah Indonesia. Biarlah mereka bertahan dan sebisa mungkin merasakan keabadian mereka di bumi dengan karya-karya terbaiknya, tetapi apresiasi atas karya tersebut tetap sepenuhnya milik penghuni dunia ini.
Cheers! Bravo Musik Indonesia!!!

Kamis, 15 Januari 2009

Fakta di Balik Kesuksesan Peterpan



Hai, music mania semua, pa kabar? Sebelumnya saya mau bertanya dalam angan, siapa sih anak muda di Indonesia yang tak kenal dengan Peterpan. Sudah berapa banyak pita suara Anda menyanyikan lagu-lagunya mereka? Kalo saya boleh berpendapat, imej mereka di masyarakat Indonesia sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Ehm, jujur saja, saya adalah salah satu penggemar berat music-musik mereka. Kenapa? Nah, meskipun banyak band-band Indonesia yang mengusung aliran dan genre music yang sama dengan Peterpan, tapi mereka itu sungguh beda dengan band-band sejenis lainnya. Perbedaan inilah yang membuat saya menyukai music mereka, bukan karena saya ikut-ikutan orang lain yang disebabkan mereka sudah popular. Saya sendiri telah mengikuti jejak-jejak mereka dari album kompilasi Kisah 2002 Malam hingga saat ini. Ternyata apa yang idolakan itu bukan hanya mimpi suatu ketika, hingga saya bisa berkata "ternyata saya tidak salah mengidolakan band yang popularitasnya melejit lewat lagu-lagunya". Mungkin karena di awal-awal kemunculan mereka saat hits "Mimpi Yang Sempurna" saya beranggapan bahwa "mungkinkah suatu saat nanti band ini akan menjadi band besar?"Album-album yang menuai banyak sukses hingga menjadi hits masyarakat Indonesia kini telah tersimpan dalam sebuah museum keabadian di bawah bendera Peterpan. Peterpan, sebuah nama yang cukup unik bagi saya. Semua albumnya saya koleksi sebagai bagian perjalanan musik mereka. Saya berharap music Peterpan di nama band baru mereka tetap membawa sebuah nama yang khas sesuai imej music mereka tentunya tanpa meninggalkan benang merah yang sudah melekat.Langsung aja ya, berikut beberapa fakta mengapa banyak orang yang mengidolakan Peterpan. Tulisan-tulisan ini diberikan oleh beberapa sahabat-sahabat di tanah air melalui forum-forum yang sempat saya baca terhadap antusiasme mereka kepada Peterpan. Selain itu juga bersumber dari pemberitaan melalui media elektronik dan media cetak. Sungguh tidak menyangka thread tentang band ini selalu menjadi bahan pembicaraan yang lebih banyak memberi support atas musik-musik Peterpan . Let's see the fact…


1. Group band pertama diindonesia (dan belum tertandingi) yg berhasil menembus angka penjualan 3 juta copy di album Bintang Di Surga padahal kala itu sedang masa krisis dan pembajakan kaset merajalela.
Ada seseorang sahabat bilang seperti ini :
"gue ingat dulu waktu beli kaset album ini di duta suara, gue cuman ngedapatin sisa satu biji dietalasenya dan itu lah yg akhirnya gue beli.waktu album alexandria keluar, seminggu sebelum launching di duta suara udah buka daftar pemesanan duluan krn takut gak kebagian yg mau beli."
Wuiiih, emang bener gila ni, man…
2. Group band pertama di Indonesia yg launching albumnya sampai-sampai disiarkan 6 stasiun TV live sekaligus!, haha, kayak acara upacara bendera 17 an aja nih…
Cuplikan beritanya nie :
"Kapanlagi.com - Grup band Peterpan memang sensasional. Tak lama lagi, dengan formasi empat personel tersisa, Ariel Peterpan (vokal), Lukman (gitar), Uki (gitar), dan Reza (drum) itu akan segera merilis album berjudul Hari Yang Cerah. Saking sensasionalnya, acara peluncuran album mereka pun bakal disiarkan oleh enam saluran televisi di Indonesia.
Konser sekaligus launching di Monumen Perjuangan Gazebo, Bandung. Sebelumnya, salah satu hit dari album itu, MENGHAPUS JEJAKMU, telah diputar serentak di 200 stasiun radio di Indonesia dan Malaysia."
Iya kan, selama ini belom ada band kayak gitu…
3. Satu satunya Group Band Yg mencetak rekor MURI membuat konser marathon 24 jam di enam provinsi
Ini cuplikan beritanya :
"Jum'at, 23 Juli 2004 17:34
Kapanlagi.com - Grup musik Peterpan membuat sejarah baru. Grup musik asal Bandung, Jawa Barat ini sukses mencetak rekor konser maraton di enam provinsi dalam tempo 24 jam. Konser bertajuk "LA Lights Peterpan 24 Jam Breaking Record" itu ditutup di Graha Pena, Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini. Dengan prestasinya itu, Peterpan yang dikawal Ariel (vokal), Lukman (gitar), Uki (gitar), Andika (keyboard), Indra (Bas) dan Reza (drum) berhak dicatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).mulai menggelar konser di Medan, Sumatra Utara sekitar pukul 07.55 sampai 08.40 WIB. Dari sana, Ariel Cs lalu melanjutkan di Padang, Sumatra Barat sekitar pukul 10.45 hingga 11.30 WIB. Pada jam 12.55 hingga 13.40 WIB, Peterpan konser di Pekanbaru, Riau, terus Lampung pada jam 16.25 sampai 17.10 WIB. Ariel lantas membuka konser di Semarang, Jawa Tengah, sekitar pukul 19.45 dan berakhir pada 20.30 WIB. Konser Peterpan ditutup di Surabaya sekitar pukul 22.15 sampai 23.00 WIB. Meski stamina mulai menurun, Ariel dan kawan-kawan tetap nyaring mengusung lagu-lagu hits dari album pertama mereka, TAMAN LANGIT"
4. Oh, iya waktu launching album Alexandria juga disiarkan 6 stasiun TV lho, ini album ekslusif lho, isinya OST Alexandria, n ada penukaran kupon buat ngedapetin kaset n CD terbaru…
Silakan disimak beritanya :
"Belum lagi habis putaran lagu di album "Bintang Di Surga" yang masih sering didengar di toko-toko kaset atau dimanapun tempat yang kita lewati, Peterpan kembali dengan album Original Soundtrack "Alexandria". Launchingnya dibikin gila-gila-an. Jalan Dago Bandung ditutup untuk acara ini, 6 stasiun TV pun ga ketinggalan meliput acara Lauching ini.
Launching yang diberi tema "Menunggu Pagi Bersama Peterpan" ini memang dibikin nggak biasa. Bayangkan ajah 6 stasiun TV yaitu SCTV, IVM, Metro TV, ANTV, Lativi, dan TVRI ikut menyiarkan secara langsung acara tersebut. Ga ketinggalan 4 kafe di 4 kota di Indonesia juga ikut mengadakan nonton bareng launching album OST Alexandria tersebut. Cafe-cafe tersebut adalah cafe Pisa Jakarta, Cafe Tio's Semarang, Cafe Hugos Yogyakarta dan Hugos Surabaya. Jalan Dago-pun ditutup untuk acara ini.
Uniknya dari acara ini, penggemar peterpan bisa beli kupon dari seminggu sebelumnya untuk mendapatkan kaset atau cd limited edition yang ada tanda tangan plus Pin Peterpan Ost Alexandria. Kupon tersebut ditukarkan setelah acara Menunggu Pagi atau setelah jam 12 malam."
5. Lagu "Tak bisakah" menjadi lagu indonesia pertama dan satu satunya yg dijiplak persis oleh negara india dan menjadi top disana bahkan menjadi soundtrack film india "woh lamhe".
Untuk lebih jelasnya :
"BTW, buat para haters Peterpan, asal kalian tau aja ya band yg kalian benci dan hina2 ini ternyata punya penggemar fanatik di luar negeri (bukan cuma Malaysia, Singapura dan Brunei aja lho). Kalo nggak percaya nih lihat forumnya : http://arielfanforum.co.nr/
Buat Ariel haters, Ariel mungkin nggak ganteng2 banget, tapi emang aura dan kharismanya kuat. Liat aja fans dia, bukan cuma cewek2 Indonesia, bule, China, India, semua ada.
Oh ya info lagi, lagu Peterpan yang dicontek India itu bukan cuma satu. Ada dua lagu yg dijiplak abis oleh penata musik film paling laris di India bernama Pritam, yaitu Tak Bisakah (Kya Mujhe Pyaar Hai) dan Di Belakangku (Aao Milo Chale).
Dan gw baru aja tau ada tiga serangkai penata musik film yang dihormati karena ide2 segar dan originalnya di Bollywood sana, nama mereka Shankar, Ehsaan dan Loy (biasa disingkat SEL), ternyata mereka juga terinspirasi lagunya Peterpan "Topeng" di soundtrack berjudul "Socha Hai" yg mereka ciptain buat film India berjudul "Rock on" (film pertama India tentang perjalanan karir sebuah band rock). Cari aja lagu2 itu di youtube, kalian akan bisa dengar kesamaan konsep dan nadanya.
Jadi nggak bisa dipungkiri, terlepas dari segala kekurangannya, Peterpan emang band yg fenomenal."
6. Ada satu lagi yg mungkin gk pernah terjadi di album band2 sebelumnya..yaitu : album bintang di surga dirilis dalam bentuk house musik lengkap seluruh lagunya !....biasanya house music itu berupa kompilasi lagu2 pilihan..tetapi ini dalam satu album lengkap dgn susunan lagu spt album aslinya. diproduksi oleh MUSICA pula. gue masih punya album house musicnya itu sampe skrg...cukup unik satu album dibuat versi house musicnya....membuktikan bahwa seluruh lagu dibintang disurga adalah HITS
7. Dari semua judul album dan semua judul lagunya, tidak satupun yang menggunakan kata "CINTA" dan sinonimnya. Jikapun ada, itu hanya ada dalam lirik beberapa lagunya saja dan sangat jarang, tetapi "CINTA" yang digunakan tidak secara langsung mendefinisikan rasa sayang antara kaum adam dan hawa.
8. Tema yang dibawa dalam satu albumnya juga universal, artinya tidak hanya membawa satu tema saja dan lirik-lirik yang ditulis mempunyai makna puitis yang dapat dipahami semua umur dan kalangan. Sebut saja lagu-lagu seperti "Aku dan Bintang", "Semua Tentang Kita", "Kita Tertawa", "Topeng". Lagu-lagunya simple sehingga mudah ditirukan penggemarnya, dan selalu terdapat benang merah. Menurut saya benang merah itu terdapat dalam penulisan lirik Ariel dan permainan melodi gitarnya Lukman yang sangat kreatif dan ada cirri khasnya.
9. Selain itu, lagu "Ada Apa Denganmu" juga pernah dibuat dalam aransemen Keroncong yg dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang dan aransemen Campur Sari yg dipopulerkan oleh Didi kempot.
10. Satu-satunya band yang replika para personelnya dimuseumkan di museum Monas (Museum Nasional), ini beritanya :
"
INILAH.COM - Bubar, Peterpan Jadi Patung Museum Nasional
INILAH.COM, Jakarta - Peterpan menjadi satu-satunya band Indonesia yang dipajang di Museum Nasional Jakarta. Patung membanggakan ini, justru dianggap Peterpan sebagai pelepas rasa rindu. Maksudnya, kalau kangen Peterpan, datang saja ke Museum Nasional Jakarta.

"Kenapa kita mau dipatungin? kalau semuanya demi kepentingan sahabat Peterpan, kenapa tidak. Yang paling penting, kita merasa berterima kasih, karena mendapatkan penghargaan membanggakan dari Musica," jelas Ariel Peterpan, di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat, Monas, Jakarta Pusat, Rabu malam (3/12).

Namun demikian, pencapaian tersebut tidak menjadikan Ariel dan Peterpan sombong, terlebih merasa sejajar dengan para pahlawan. "Nggak, lah. Kita bukan seperti itu. Kita nggak berubah dan kita tak pantas disejajarkan dengan pahlawan yang banyak berjasa kepada bangsa dan negara."

Apa yang sudah terjadi sekarang, menurut Ariel lebih untuk hal menyenangkan dan menguntungkan banyak pihak, terutama sahabat Peterpan.

"Bukan untuk Peterpan semata, tetapi lebih untuk orang lain. Mulai dari pihak museum, sampai keuntungan bagi sahabat Peterpan yang jadi tahu banyak dan merasakan manfaat mengunjungi museum. Selanjutnya, jadi rajin mengunjungi semua museum, terutama Museum Nasional. Setidaknya bisa melihat Patung Peterpan, kalau lagi kangen sama Peterpan yang sudah bubar," ujar Ariel.

Tentang bubarnya Peterpan, hanya tinggal menunggu waktu saja. Biar pun sebenarnya, sekarang sudah bisa dibilang bubar. Seperti pemberitaan-pemberitaan sebelumnya, Peterpan sudah tidak akan pernah konser tunggal lagi, sampai benar-benar berganti nama.[aji]"

Bener-bener sebuah prestasi yang membanggakan bagi industri musik tanah air...


Minggu, 21 Desember 2008

Apakah Musik Bisa Membuat Anda Tuli?

Kehilangan pendengaran adalah salah satu rahasia buruk yang disimpan oleh industri musik, dan semua yang terlibat dari musisi di atas panggung sampai para fans yang mendengarkan musik melalui earphone berada dalam resiko besar. “Kita memeperkeras suaranya tanpa sadar bahwa yang kita lakukan akan merusak”, ucap Brian Fligor, seorang audiologis dari Boston Children’s Hospital. “Pendengaran yang hilang itu terjadi perlahan dan tersembunyi sehingga kita tidak akan sadar sampai terlambat”.
Lebih dari 28 juta orang Amerika saat ini mengalami kerusakan pendengaran, menurut National Institute on Deafness, dan sejak generasi baby boomers, angka tersebut diperkirakan akan naik setinggi 78 juta pada tahun 2030. “Lebih dari dua puluh tahun, suara pada lingkungan telah berlipat ganda setiap dekadenya,” jelas Marshall Chasin, direktur pada pusat penelitian auditori di Musician’s Clinic of Canada. “Semua bunyi menjadi lebih keras dari bunyi telepon, suara film, dan bunyi konstruksi. Dan rock & roll menjadi bagian besar dari itu”. Untuk generasi iPod, masalah ini dapat menjadi lebih besar. Dua puluh dua juta warga Amerika dewasa memiliki iPod atau alat musik digital lainnya, dan penelitian menunjukkan bahwa bila ini dilakukan terus menerus, bahkan dengan volume sedang, dapat menimbulkan kerugian yang serius.
Saat penelitian spesifik mengenai efek musik yang keras terhadap telinga yang dapat mengakibatkan ketulian ataupun tinnitus, bunyi dengung konstan di telinga masih sangat terbatas. Namun bukti resiko bagi para penggemar dan profesional di industri musik semakin meningkat, sngan banyaknya ke dokter, audiologis dan peneliti yang mulai tertarik pada masalah ini. Pada tahun 2001, Fligor memulai penelitian untuk mengetahui seberapa keras dan berapa lama kita bisa mendengarkan musik dengan alat musik portable melalui headphone dengan aman. Dia menemukan bahwa jenis headphone yang kita gunakan menentukan efek resiko tersebut. “Semakin dekat dengan gendang telinga, maka level suara yang diproduksi oleh sistem semakin tinggi,” jelas Fligor. Rata-rata, Fligor menemukan bahawa kita dapat mendengarkan dengan headphone (yang dipasang di atas telinga, bukan di dalamnya) secara aman pada level suara di batas enam (dari sepuluh) selama satu jam per hari. Sedangkan untuk headphone kebanyakan yang dipasang di dalam telinga, seperti earphone, lamanya waktu untuk mendengarkan pada level enam menjadi lebih pendek, selama tiga puluh menit untuk beberapa model earphone sebelum Anda melebihi dosis waktu harian yang aman.
Para penggemar musik muda terutama, masih belum menyadari resiko akibat kontak langsung dengan suara bunyi. Pada tahun 1999, Dr. Roland Eavey, profesor otolaryngology lulusan Harvard Medical School dari Massachusetts Eye and Ear Infirmary, datang ke konser musik R.E.M bersama anak perempuannya. “Di lapangan parkir setelahnya, semua berkata seperti, ‘Apa kuping kamu berdengung?” ceritanya. “Saya curiga bahwa mereka tidak sadar bahwa mereka mungkin berada dalam masalah.” Eavey menjalankan sebuah penelitian bersama Harvard School of Public Health untuk menentukan seberapa sadar para pendatang konser bahwa mereka mungkin merusak pendengaran mereka sendiri. Tahun lalu, tim dari Eavey membuat kuestioner pada situs MTV. Dalam waktu tiga hari, hampir 10.000 orang (kebanyakan di bawah 21 tahun) menjawab, 28 pertanyaan mengenai perilaku mereka mengenai isu seperti penyakit seksual (50% menyatakan itu adalah masalah besar), penggunaan narkoba dan alkohol (43%) dan depresi (44%). “Hilang daya pendengaran mendapat delapan persen,” ucap Eavey. “Itu adalah masalah terakhir yang dipikirkan oleh mereka. Tetapi kami bertanya pada akhir survey tersebut, ‘Apa Anda pernah mengalami gangguan pendengaran atau bunyi dengung di telinga?’, dua pertiga menjawab pernah.”
Sejak tahun 1997, the House Ear Institute di Los Angeles telah membuat percobaan dengan para pekerja professional di industri musik. Rachel Cruz, seorang peneliti HEI dan audiologist telah menganalisa data dari 4000 musisi, produser, studio engineers dan para DJ. “Rata-rata dari orang yang kami tes, mereka yang berumur 20-an dan 30-an bersih dari kerusakan pendengaran bunyi, namun pendengaran mereka sudah berada di batas normal,” ucapnya. “Tapi pada saat mereka mencapai umur 40-an ada pergeseran besar. Bila Anda tidak berhati-hati, saat umur 40 kamu akan mulai terasa kesusahan.”
Konser musik dan MP3 Player dapat merusak pendengaran kecuali bila Anda mengambil langkah-langkah berikut untuk menghindarinya: 1). Gunakan earplug, Anda sudah cukup menggunakan earplug murah berbahan styrofoam terlebih earplug jenis tertentu yang dapat mengurangi volume tanpa menghilangkan bayak nada-nada tinggi, 2) Kecilkan volume, jangan menyalakan portable player Anda sekeras mungkin apalagi dengan tujuan mengalahkan suara sekitarnya. Bila Anda berada dalam kereta, suara di sekitar kira-kira setinggi 105 desibel. Untuk dapat mendengarkan musik, maka Anda harus menaikkan volume sampai 110 desibel, level suara yang hanya aman untuk didengarkan selama 30 menit, 3) Beli headphone baru, jenis yang dapat menutup suara dari luar sehingga Anda dapat mendengarkan musik dengan level volume yang minimal masuk ke dalam telinga sehingga menutup suara eksternal, 4) Istirahatkan telinga, telinga Anda membutuhkan waktu sekitar 18 jam setelah terkena oleh suara keras untuk kembali normal, 5) Berhenti merokok, hal ini memperbesar resiko Anda dua kali lipat. Bila Anda melakukan sesuatu yang dapat merusak bagian kardiovaskular, seperti merokok, peredaran darah Anda tidak akan baik, Anda terkena dua toksin, toksin kardiovaskular dan toksin suara.
Dan sementara sudah banyak musisi veteran yang menyadari, banyak musisi muda yang tidak peduli. “Saya hanya suka yang keras,” ucap penyanyi Killers, Brandon Flowers. “Pertunjukan kami tidak akan pernah sama bila saya harus memakai pelindung telinga”. Beberapa musisi lain mulai khawatir, tetapi tidak cukup untuk mengubah perilaku mereka. “Saya pernah mencoba untuk menggunakan earplugs sebelumnya dan langsung saya lepas dan berpikir, “Saya tidak menyukainya,” ucap Bary Hyde dari Futureheads “Saya hanya harus menderita akibat konsekuensinya di masa depan.”

Billie Joe Armstrong : si Anak Dua Dollar

Billie Joe Armstrong adalah seorang vokalis dan gitaris trio band asal Amerika yang dikenal sebagai Green Day. Armstrong adalah anak paling muda dari enam bersaudara yang lahir pada tanggal 17 Februari 1972 di Oakland, California. Ibunya, Ollie salah menulis nama ketika Billie lahir. Dia memberikan nama Billie yang seharusnya ditulis Billy. Ayahnya, Andy Armstrong, adalah pemain musik jazz dan supir truk, telah meninggal karena kanker ketika Armstrong berumur 10 tahun. Ibunya, Ollie Jackson, adalah pelayan di Rod’s Hickory Pit, tempat dimana Billie dan temannya Mike Dirnt bekerja di masa remaja mereka. Rod’s Hickory Pit adalah tempat dimana Armstrong dan bandnya Sweet Children tampil pertama kali.
Di sekolahnya, Billie dipanggil "Dua Dollar", karena dia suka memakan ganja seharga 2 dollar. Pada tahun 1988, Armstrong membuat band bernama Sweet Children dengan Mike Dirnt. Pada tahun 1989, mereka mengganti namanya menjadi Green Day, bersama pemain drum baru, Al Sobrante (John Kiffmeyer), dan membuat rekaman 1,000 Hours, di Lookout! Records. Pada tahun 1990, Sobrante keluar dari Green Day dan digantikan dengan Tré Cool (Frank Edwin Wright III), yang melanjutkan album kedua Green Day, Kerplunk!, memainkan semua lagu kecuali 3 lagu.
Pada tahun 2006, Armstrong berumur 34 tahun dan telah menjadi anggota band Green Day selama 17 tahun. Armstrong menikah dengan Adrienne Nesser pada tanggal 2 Juli 1994. Pesta pernikahannya hanya 5 menit. Hari setelah mereka menikah, Adrienne hamil dengan anak pertama mereka, Joseph Maricano (lahir 15 Maret 1995). Tiga tahun kemudian, mereka mempunyai anak kedua, Jakob Danger (lahir12 September 1998).
Adrienne lahir pada tanggal 6 Oktober 1969 di Minneapolis, Minnesota. Saudara lelakinya, Steve Nesser, adalah pemain skateboard professional. Ketika belajar Sosiologi di Universitas Minnesota, Adrienne bertemu Armstrong dan bertanya padanya dimana dia bisa membeli album mereka. Armstrong terpesona dengan rambut hitam dan panjang Adrienne. Mereka berdua saling berbicara di telepon. Armstrong dan Adrienne tunangan, dan merencanakan pernikahan mereka dalam 2 minggu. Pernikahan mereka dilaksanakan di belakang rumah Armstrong selama 5 menit. Mereka berbulan madu di Hotel Claremont, memakan waktu 10 menit dari rumah mereka. Adrienne sering terlihat di belakang panggung ketika Green Day tampil. Dia bekerja di Adeline Records dan baju Adeline.

Pada umur 5 tahun, dengan dorongan guru musiknya, ia mengeluarkan sebuah singel “Look for Love,” pada sebuah label lokal kecil dan bermain beberapa kali dengan drummer paruh waktunya, Andy. Itu merupakan masa kecil yang bahagia, sampai Billie Joe berumur 10 tahun, ayahnya meninggal karena kanker. Ibunya harus menghidupi Billie Joe dan kelima saudaranya dengan gajinya bekerja pada restoran 24 jam Rod’s Hickory Pit. “Ia bekerja dengan banyak shift,” kata Billie Joe. “Saudara-saudaraku diletakkan pada posisi dimana mereka harus tumbuh dengan cepat dan menjadi orang tua bagiku”. Kemudian ibunya menikah dengan seseorang yang amat dibenci oleh Billie Joe dan saudara-asaudaranya. Ia melampiaskan amarahnya ke musik dan pada saat ia masuk Carquinez Middle School pada musim gugur 1982, pada umur 11 tahun, ia tidak memikirkan hal lain, selain harus segera bermain gitar. Suatu hari ia bercakap-cakap dengan seorang anak kelas 8 lainnya, kurus dan berambut pirang serta fanatik dengan musik yaitu Michael Ryan Pritchard yang sekarang lebih dikenal dengan Mike Dirnt.
Dirnt menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang selalu merasa seperti ia sedang ‘melihat dari luar ke dalam’. Lahir pada tahun 1972 dengan ibu seorang remaja pecandu heroin, ia diserahkan untuk diadopsi pada umur 6 minggu. Orang tua angkatnya bercerai waktu ia berumur 7 tahun dan ia tinggal dengan ibunya, seorang Indian yang harus bekerja 3 jenis pekerjaan untuk menghidupi keluarga. Seperti Armstrong, ia berlindung pada musik, memainkan gitar di kamarnya. Setelah mereka bertemu di Carquinez, mereka membuat tempat latihan di ruang keluarga rumah Armstrong dan memainkan lagu-lagu Van Hallen dan Motley Crue. Ketika ibu Dirnt bangkrut dan kehilangan rumahnya, Dirnt pindah ke garasi keluarga Armstrong.
Ketika mereka berumur 15 tahun, Armstrong dan Dirnt pertama kali mengunjungi klub punk-rock untuk semua umur, 924 Gilman Street Project dan semuanya berubah. Berlokasi di samping toko bahan pengawet di distrik pergudangan di Berkeley. Gilman 924 merupakan pusat dari kumpulan generasi punk penuh tattoo dan rambut mohawk yang menjalankan tempat ini secara sukarela dan kerjasama. Gilman adalah tempat dimana Armstrong dan Dirnt jatuh cinta pada musik punk dan tempat dimana mereka menyatakan perasaan politis mereka. Mereka berdua secara teratur mengunjungi Gilman dan menyerap ideologi yang dikeluarkan generasi punk di tempat itu.
Terlepas dari kebangkitan politis mereka, hal lain terjadi di Gilman yang memiliki pengaruh besar bagi masa depan mereka. Mereka bertemu sesama remaja dan pengunjung setia Gilman bernama Tre Cool. Dari ketiga anggota Green Day, Tre tumbuh paling jauh dari arus utama masyarakat Amerika. Terlahir dengan Frank Edwin Wright III tahun 1972, ia adalah anak dari seorang veteran Vietnam yang setelah perang membawa keluarganya ke rumah terpencil di puncak gunung dengan sebuah kota kecil Laytonville, 3 jam ke arah utara San Fransisco. Rumah yang dibangun keluarga itu tidak memiliki listrik, TV atau air. Tre berumur 11 tahun ketika ia direkrut untuk bermain dalam sebuah band yang dipimpin tetangganya di gunung yang juga penggemar punk rock dan mengajarkannya bermain drum untuk lagu karangannya “Fuck Religion”.
Pada tahun 1990, Armstrong, Dirnt, dan Tre bergabung membentuk sebuah band bernama Green Day. Nama Green Day muncul sebagai penghormatan pada pesta ganja seharian penuh. Band ini menjadi salah satu jebolan terbaik Gilman yang menarik banyak penggemar dengan musik 3 chord dan lirik lagu tentang hidup sebagai remaja pemakai marijuana. Band tersebut merilis Kerplunk pada label indie kecil, Lookout! Records di tahun 1992. Sesudah itu terjadi perang besar memperebutkan mereka di antara label-label besar. Green Day akhirnya dikontrak oleh Reprise dan pada Februari 1994 mereka merilis debut mereka, Dookie, yang membuat mereka menjadi bintang favorit MTV pada awal umur ’20-an, yang terjual sebanyak 8 juta kopi di AS.
Berikutnya mereka meluncurkan Insomniac (1995) dan Nimrod (1997) yang pada titik tertentu tampaknya kehabisan tenaga. Setelah ketiganya menikah dan mempunyai anak, lirik-lirik Armstrong mulai berubah, menggambarkan ketakutan bahwa ia akan menjadi tua, bosan, dan apatis. Tiga tahun berlalu sebelum mereka merilis Warning pada tahun 2000. Lagu “Warning” dan “Minority” menunjukkan bahwa band tersebut mulai mencapai tema yang lebih luas daripada kekhawatiran usia paruh baya, tetapi musik dan penjualan album mereka menyedihkan.
Kemudian pada September 2004, album American Idiot yang hingga kini terjual kurang lebih 4,5 juta kopi pun diluncurkan. Armstrong menulis lagu “American Idiot”, sebuah lagu yang ia alamatkan pada hal-hal yang telah terbangun dalam dirinya selama beberapa tahun terakhir. Serangan teror di New York, katanya adalah sebuah katalisator. Semua lagu dalam album tersebut menyangkut perang, paranoia, dan ketakutan teror. Tema tentatif politis yang telah mulai muncul dalam Warning kini melompat ke permukaan dan latihan awal di Gilman telah membuat liriknya berenergi. Ia bersikeras bahwa ia mulai menulis album itu bukan sebagai pemukul Bush atau bertujuan untuk menghina. Ia menulis lagu untuk sebuah “pembersihan” dan sebagai cara untuk mengerti apa yang terjadi ketika semuanya lepas kendali.
Bagi Armstrong, kembalinya kepercayaan kepada presiden adalah sebuah bahaya tersendiri. “Perang terhadap teror langsung mengarah pada jenis perang dimana teroris yang dimaksud itu sama dengan jihad,” katanya. “Karena mereka melihat perang ini muncul dari orang yang religius, George W. Bush. Tiba-tiba ini bukan tentang terorisme. Tiba-tiba ini menjadi Kristen melawan Islam dan tak satu pun dapat membuat darah Muslim fundamentalis menjadi mendidih selain hal seperti itu.”
Sikap anti perang Green Day berasal dari bagian sejarah pribadi mereka. Mereka datang dari level ekonomi-sosial kelas pekerja, dimana banyak sekali tentara. “Saudara ibuku, paman Jay, meninggal di Vietnam,” kata Armstrong. “Ia tertembak di udara ketika terjun dengan parasut. Ibu saya sering bercerita tentangnya. Saya pikir, ‘Masuk militer berarti mati muda.’Hal tersebut amat menakutkan saya dan tidak masuk akal sama sekali bagi saya.” Pengalaman Tre tumbuh sebagai anak veteran perang Vietnam berperan kecil dalam membantu perkembangan sikap pro perang dalam dirinya. “Setelah perang, ayah tidak suka berbicara tentang itu,” katanya. “Tapi hal-hal tertentu akan mengingatkannya. Seperti, jika kamu membakar rambut di dekatnya, ia akan ketakutan. Tercium seperti tubuh yang terbakar.”
Perubahan Green Day dari punk pop penuh olok-olok menjadi penggerak protes politik cukup mencengangkan, kecuali bagi mereka yang mengenal masa kecil dari personil band tersebut. Pembentukan awal mereka sebagai band di lingkungan punk-rock di Berkeley, California, adalah sebuah cerita yang membuat kemunculan American Idiot dan seorang pengacau yang membangkitkan pemberontakan pada sebuah penampilan di panggung tampaknya tak terelakkan.

Sumber : RSI Edisi 9 Januari 2006

32 Pertanyaan Penting Bagi Band Anda Saat Berkarir

Seluruh pertanyaan berikut sangan berguna bagi artis atau band jika mereka serius menjadikan music sebagai karir sekaligus mata pencaharian utama. Jawaban yang cerdas, jujur, dan detail terhadap semua pertanyaan ini akan sangat membantu artis atau band dalam menulis profil/biografi band, fact sheets dan segala aktivitas penting dalam memasarkan dan mempromosikan music mereka. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini juga akan membantu artis/band dalam melakukan evaluasi terhadap perkembangan karier mereka saat ini. Plus, dengan menjawab seluruh pertanyaan ini sekarang juga akan memudahkan Anda dalam menghadapi wawancara dengan media massa nantinya.
  1. Nama Artis/Band (sertakan pula seluruh nama personel band dan instrument yang mereka mainkan.)
  2. Apakah nama panggung atau atau nama band kalian telah terdaftar di Direktorat Jenderal HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual)?
  3. Apakah Anda telah mendaftarkan lagu-lagu Anda ke Direktorat jenderal HAKI agar mendapat perlindungan maksimal atas Hak Cipta?
  4. Apakah lagu-lagu Anda sudah didaftarkan ke penerbit music (publishing)? (Jika sudah, oleh siapa?)
  5. Sudahkah Anda menjadi anggota organisasi pemungut royalty untuk performance rights? (Misalnya Karya Cipta Indonesia (KCI))
  6. Apakah latar belakang Anda? (Siapakah Anda dan para personel band Anda lainnya? Ceritakan sejarahnya.)
  7. Apakah band Anda telah memiliki kontrak internal grup (kontrak yang mengatur kerja sama Anda dengan para personel band lainnya)?
  8. Mengapa Anda ingin merekam dan merilis music band Anda? (Ceritakan sejarahnya.)
  9. Siapa sajakah para penggemar musik Anda? (Analisa sepenuhnya pertanyaan ini.)
  10. Lagu-lagu Anda bercerita tentang apa saja? (Tema apa saja yang diangkat?)
  11. Apakah Anda menciptakan sendiri lagu-lagu band Anda? (Ceritakan proses kreatif menciptakan lagu di band Anda.)
  12. Siapa saja pengaruh (influence) musikalitas Anda? (Sebutkan artis/band.)
  13. Bagaimana menjelaskan music yang band Anda mainkan kepada khalayak luas? (Ini bukan jawaban yang pendek. Diskusikan terlebih dahulu.)
  14. Seperti apakah imej yang Anda pilih untuk merepresentasikan band Anda? (jangan anggap remeh urusan imej!)
  15. Apakah tujuan jangka pendek band Anda? (1 hingga 3 tahun ke depan)
  16. Apakah tujuan jangka panjang band anda?
  17. Bagaimana Anda mendefinisikan kata “sukses”? (Ini bukan jawaban yang pendek. Diskusikan terlebih dahulu.)
  18. Apakah Anda mengenal para pelaku industry music secara pribadi?
  19. Apakah Anda memiliki pengacara hiburan sebagai konsultan bisnis?
  20. Apakah Anda mencari kontrak (deal) dengan indie label atau najor label? (Mengapa?)
  21. Apakah Anda memiliki demo, press kit, atau materi promosi bagi band Anda?
  22. Berapa banyak pengalaman manggung yang telah Anda lalui?
  23. Berapa Anda memberikan rating bagi aksi panggung band Anda sendiri? (Bersikaplah kritis dan jujur. Jangan terjebak klise.)
  24. Pernahkah Anda merekam CD/Kaset sebelumnya? (Studio apa? Siapa produsernya?)
  25. Bagaimana cara Anda menjual CD/Kaset tersebut? (Konsinyasi? Distributor? Penjualan saat live?)
  26. Apakah band Anda pernah diliput/diresensi oleh media cetak atau media elektronik?
  27. Apakah Anda memiliki dana yang cukup untuk mendukung eksistensi karier Anda di industri musik? (Mengutang?)
  28. Apakah Anda paham segala bentuk pajak Negara bagi musisi?
  29. Apakah Anda memiliki asuransi untuk alat music dan kendaraan?
  30. Sudahkah Anda menerapkan system pengelolaan keuangan bagi band Anda?(Menggunakan software atau akuntan?)
  31. Siapa yang mengelola aktivitas bisnis band Anda sehari-hari? (Booking, promosi, dsb.)
  32. Sudahkah membuat perencanaan karir, perencanaan pemasaran, dan perencanaan bisnis bagi band Anda? (Apakah secara tertulis?)
Sumber: Rolling Stone Indonesia